Perkataanmu Perisaimu

 

“Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tuliskan” QS. al Qalam:1

Allah bersumpah demi kalam, ini tidak hanya berhubungan dengan teks melainkan semua bentuk ekspresi seseorang yang akan memberi pengaruh besar kepada dirinya, maupun orang lain. Allah tidak bersumpah menyangkut suatu objek yang dapat dikenali manusia, melainkan di dalam sumpahnya itu ada perkara yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena seorang muslim di harapkan, apapun yang di ekspresikannya memberi rahmat bagi semua pihak, hingga seorang muslim yang taat dapat terlihat dari caranya mengekspresikan dirinya.

Salah satunya, Perkataan atau ungkapan, adalah identitas kualitas seseorang yang sangat penting. Cara seseorang mengungkapkan fikirannya, akan merujuk kepada_status sosialnya, wawasannya, keyakinan beragamanya, sampai kepada identitas kepribadiannya (baik/buruk), yang semua itu tersirat di balik cara mengungkapkan perkataannya.

Sosial media, sekarang menjadi alat paling cepat dan dinilai mendorong seseorang lebih berani mengungkapkan ide fikirannya. Melalui sosmed, apa yang difikirkan berubah menjadi kongkrit, karena tertulis, dibaca banyak orang dan masuk dalam dataBase (meskipun kita sudah menghapusnya). Berbicara di sosmed, tidak seperti ketika hanya didengar dalam kalangan terbatas kemudian dilupakan, atau senyaman jika kita berbicara dalam lingkungan komunitas yang terbatas dan dapat di prediksi sejauh mana respon orang lain dan siapa yang memberi respon. (Jangan di samakan dengan berbicara di mimbar mesjid), kelompok pengajian yang tertutup dll, dimana yang datang mendengarkan dapat dipastikan hanya orang-orang yang memang siap menerima. Ini salah satu hikmah, mengapa seorang muslim di tuntun untuk berkata yang baik atau pilih diam saja. Berkata baik artinya, berhati-hati dalam mengolah ungkapan jangan sampai merugikan diri apa lagi orang lain, bukan untuk membungkam seseorang agar tidak mengekspresikan fikirannya.

Kekayaan berbahasa, menjadi faktor penting juga untuk membantu kita lebih kreatif dalam memilih dan memilah kalimat yang tepat, yaitu mengupayakan agar sampai ke sasaran tanpa berakibat pelanggaran hukum. Selain itu, memahami hukum positip yang berlaku dan memahami nilai-nilai etika yang berlaku di masyarakat, sangat penting diperhatikan saat kita berbicara di sosmed atau menggunakan media aplikasi online-lainnya.

Tidak akan mempersulit, jika suatu ungkapan itu hanya dimagsudkan untuk mengekspresikan diri sendiri. Namun jika itu ditujukan pada nama orang, lembaga, keyakinan yang dianut oleh kelompok sosial di masyarakat, maka setiap orang harus memiliki kekuatan (secara hukum) yang dapat menunjang setiap ungkapannya, agar bisa membela pendapatnya jika pihak yang dimagsud tidak berkenan dan memiliki hak hukum-pula untuk memperkarakannya.

‪#‎kebebasanBerekspresi‬ ‪#‎kebebasanBersyarat‬

Kebebasan berekspresi menurut nilai-nilai alquran dan sunnah

Tidak ada kebebasan tanpa syarat, bahkan setiap kebebasan seseorang di batasi oleh kebebasan orang lain. Maka jika seorang muslim tidak memilih batasan yang baik (nilai-nilai qurani) dalam setiap tindakannya, sesungguhnya ia telah merusak magsud dari nilai kebebasan itu sendiri. Sebaik-baik ucapan seorang muslim adalah salam, yaitu perkataannya menjadi rahmat bagi kawan maupun lawan, ucapan mereka bermanfaat dan bermagsud menghindarkan setiap orang dari keburukan, di liputi keihklasan karena Allah (an Nushh)

Mari kita cermati tuntunan dalam alquran berikut ini, mengenai batasan seorang muslim dalam mengekspresikan dirinya atau mengungkapkan pendapatnya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” QA.al-Hujuraat: 11

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” QS. Al-Hujurat : 12

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengucapkan ucapan yang kotor.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi)

Harus kita ingat, bahwa kebebasan kita akan berhadapan dengan kebebasan orang lain. Karena itu, tidak ada kebebasan tanpa batas, yang ada adalah kebebasan yang terpimpin, baik oleh hukum maupun oleh itikad diri sendiri untuk memimpin diri. wallahualam ‪#‎loveSpeech‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s