Hak perempuan dalam timbangan alquran

Saya mencoba mengulas, konteks menganai perempuan dan bagaimana alquran melindungi mereka dengan hukum-hukumnya.  Ini pembahasan yang cukup rumit dengan saya bahas dalam takaran sederhana,  semoga tidak menghilangkan pesan pentingnya.

Dalam pernikahan, perempuan cenderung tidak mengetahui haknya, mungkin karena litelatur2 agama kurang memberikan penjelasan menyeluruh, atau kurang dapat mengkomunikasikannya dari sudut pandang kepentingan perempuan.

Contoh: suami memiliki wewenang untuk menceraikan maupun menikah kembali dalam pernikahnnya, tetapi istripun berhak melakukan khulu.’ yaitu menebus dirinya dari suaminya dengan cara menyerahkan mahar yang pernah diterimanya. Ketimpangan dalam memahami hak-hak perempuan dalam pernikahan, sering kali menimbulkan kesalah pahaman, terutama di mata para feminis dan HAM, dengan menyudutkan bahwa Islam membelenggu hak domestik perempuan. Ketimpangan pemahaman hukum bagi hak perempuan, menimbulkan kelemahan perempuan khususnya dalam masalah pernikahannya, karena kebanyakan mereka terbelenggu oleh doktrin yang menutup pengetahuan perempuan mengenai haknya. Salah satunya, Hak suami menjatuhkan cerai/talaq dan menikah (berpoligami), dari pada hak-hak isteri untuk bercerai dari suaminya. Lebih mengemuka dalam berbagai ruang pembicaraan formal, litelatur2, sampai pada saat ritual akad nikah. Bahkan, coba anda perhatikan judul-judul buku yang berderet di toko buku, tentang perempuan dalam hubungan pernikahannya.

Padahal jika membaca satu ayat saja, alquran banyak menunjukan betapa perempuan seharusnya memperoleh jalan keadilan dalam wilayah domestiknya, dan memiliki hak untuk memperjuangkannya. Isteri maupun suami, sama diberi hak dan kewajiban yang saling melengkapi untuk maraih ridhonya Allah.

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim’ [Al-Baqarah : 229]

Hal ini, baru dalam urusan pernikahan, belum lagi dalam urusan haknya atas walinya selain suaminya atau ayahnya. Seandainya, jika mengenai hukum-hukum islam, perempuan diberi pemahaman bahkan dalam keluarga, orang tua memberikan pendidikan hukum mengenai hubungan antar keluarga, khususnya bagaimana adik. kaka atau paman (laki-laki) memperlakukan saudara perempuannya.

Selain itu, cap perempuan matrealistis sering menjadi belenggu dan mempengaruhi keputusan perempuan dalam menuntut hak-hak ekomomisnya dalam kasus-kasus perceraian bahkan sejak baru menentukan mahar bagi kehormatan dirinya. Kekeliruan perempuan dalam membela harga dirinya, yang dibentuk dari pemahaman dan budaya sosial yang keliru, malah menjadi tanpa mereka sadari menjerumuskan ibu dan anak dalam kesulitan yang mengancam masa depan mereka/kualitas hidup mereka. Dimana seorang ibu terpaksa harus memangku peran ganda sebagai pendidik sekaligus pencari nafkah bagi anak-anaknya. Perlindungan sosial bahkan hukum negara lebih bertindak pasip terhadap tindakan penelataran ibu dan anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s