Antara fanatisme/takfiri VS Liberal

Wajah dunia komunikasi dakwah Islam saat ini, Setidaknya, bentukan opini yang saat ini sedang mencuat di berbagai media di usung oleh sebutan Fanatisme, takfiri, wahabi VS liberal, moderat. Minimal empat kata ini yang sering muncul juga dalam banyak perbincangan di sosmed.  Seakan akan, mereka mewakili dua kelompok umat Islam yang sedang berhadapan (suni/syiah), padahal dalam perkembangan sejarah agama-agama dunia, termasuk perkembangan sejaran Islam dari mulai urusan politik, sampai pertentangan urusan rincian ajaran Agama (furuu), masing-masing melahirkan kelompok garis keras, pertengahan dan cenderung liberal. Tentu saja, bagian ini saya ulas sederhana saja. Sekedar memberi gambaran global bagi pembaca.

Bagaimana, alquran memberikan tuntunan bagi seorang muslim untuk menempatkan dirinya dalam setiap urusan? mari kita mulai dengan memperhatikan QS. Huud: 112-113 di bawah ini;

Maka konsistenlah sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. sesungguhnya Dia menyangkut apa yang kamu lakukan Maha melihat.
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebakan kamu disentuh api neraka, padahal kamu tidak mempunyai satu penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.QS.Huud:112-113

Konsistenlah/bersunguh-sungguh, tetapi jangan melampaui batas.
Bersikap pertengahan/fleksibel, tetapi jangan sampai cenderung pada ke fasikan (mengamini kebiasaan buruk orang-orang fasik) hingga lemahlah kemampuan untuk menahan diri maupun kekuatan untuk menegur.
Pada iri manusia ada dua potensi saling bertolak belakang, yang akan mendorong mereka bersikap keras dan plinplan.

Sikap keras, ada pada mereka yang penakut tapi sombong. sedangkan sikap plinplan ada pada mereka yang sangat mencintai dirinya berlebihan hingga sangat bergantung pada dukungan orang lain.
Jika seorang muslim, memaksakan dirinya dan mempersulit orang lain dalam beribadah dan muamalah maka ia telah melampaui batas yang Allah kehandaki, karena hukum-hukumNya di buat untuk memberi kemudahan bukan kesulitan.

Dan jika seorang mukmin, selalu mencari celah kemudahan atau kompromi demi terciptanya keharmonisan dengan orang-orang yang nyata-nyata berbuat zalim pada diri mereka sendiri (tidak menjalankan/ lalai dengan perintah Allah) hingga terpaksa mereka harus bermanis muka dan mendua hati, menunjukan kecondongan terhadap budaya buruk hingga menyembunyikan hukum-hukum Allah atau memperingan tanpak haq, maka ia sudah berbuat zalim. Contoh: anda menunjukan sikap toleran (enggan menegur) terhadap kebiasaan/budaya barat yang sudah dianggap biasa oleh sebagian ummat Islam karena takut mereka anti pati/menjauh.

al Hasan al-Bashri seorang sufi berkata:
“Allah, menjadikan agama antara dua larangan. Larangan melampaui batas dan larangan cenderung kepada yang zalim.”

Tidaklah, mudah menjalankan dua ayat di atas karena behubungan dengan sifat manusiawi yang ada pada diri orang-orang yang bertakwa maupun mereka yang ingkar. Bahkan realitanya sekarang, kedua sifat yang mewakili kecenderungan kebanyakn manusia, menjadi ujian terbesar ummat Islam sampai sekarang. Peperangan, perdebatan yang bernuansa kebencian, semuanya lahir dari kedua golongan tersebut. yang satu meneriakan panji ke tundukan kepada hukum-hukum Allah, sedangkan yang lain meneriakan atas nama hak azasi manusia. Bahkan yang paling dekat, sifat memaksakan diri, tanpak nyata di lakukan oleh sebagian jemaah hajji yang tidak jarang mengundang bencana yang fatal. Sedangkan sifat plinplan atau cenderung menunjukan toleran tanpa batas, telah banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, untk perlahan lahan menjauhkan sebagian besar ummat islam dari nilai-nilai Islam tanpa harus memurtadkan atau memeranginya secara langsung. Salah satunya lihat apa yang dipertontonkan melalui media masa, dan lihata bagaimana sebagian besara ummat Islam telah condong kepada mereka tanpa harus meninggalkan agamanya.

Sayyid Quthub dalam tafsirnya berkata “Kelebihan dan pengurangan, keduanya mengantar agama ini keluar dari cirinya yang di kehendaki Allah swt” demikian pernyataan pengarang tafsir Fi Zhilaal al-Quran, yang di sampaikan ulang oleh M. Quraish Shihab. wallahualan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s