Tujuh hikmah dalam Alquran

1. Berhati-hati dengan “Kesan” jangan lupakan “Isi”

“Tidak ada ucapan mereka selain ucapan (doa). “Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan menangkanlah kami atas kaum yang kafir.” QS.Ali Imraan: 147

Kesan, hanyalah kemasan. Sering Menipu/melalaikan hati yang berpenyakit, membuat orang lupa dirinya dan tujuan utamanya, ia terpesona oleh kesan melupakan isi (keutamaan).
Kekaguman, Cinta, rindu, cemburu, benci, marah, Perasaan yang di ujikan kedalam hati manusia, ia adalah buah dari kesan-kesan yang di tangkap oleh akal, hati dan inderanya. Isi adalah saat seorang hamba mengutamakan keimanan dan ketakwaan, sikap adil dan makruf serta tujuan utamanya sebagai pribadi yang akan kembali kepada Tuhannya (Allah), itulah yang akan menuntun hati manusia untuk bagaimana caranya jika dia cinta, apa yang harus di lakukannya jika rindu, dan apa yang harus di tahannya jika dia benci atau marah.
Inti/isi dari kebajikan adalah niat karena Allah, bukan belas kasihan. Inti/isi dari mencintai adalah ketulusan bukan luapan birahi atau perasaan ingin memiliki. Inti/isi dari cemburu adalah ingin sama baik atau berbuat lebih baik, bukan mengharapkan berkurangnya kebaikan orang lain. Inti/isi benci dan kemarahan, adalah pada segala sesuatu perbuatan buruk bukan pada orang yang melakukannya.
Jika kita senantiasa berupaya memperbaiki diri, menjadikan Allah sebagai “Imam” kita akan di berikemudahan mengetahui apa yang menjadi keutamaan dari segala sesuatu. Sehingga sikap kita terpimpin, tidak berlebihan, tidak mempersulit, tidak kasar dan keras. Sekurang-kurangnya cepat berusaha memperbaiki diri.

2. al Abrarr

Kita renungkan QS. al Insan (76); 5-12 dan QS. al Mukminun (23): 1- 11
al abrarr: orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka Al abrar…yang hatinya senantiasa tertuju keapda Allah, mendahulukan apa yang dikehendakiNya dari pada yang diharapkan nafsunya, Ridho atas apa yg di ujikan kepadanya, bersegera dalam kebaikan, menafkahkan sebagian rezeki yang di anugerahkan Allah kepadanya, dia yang begitu banyak manfaatnya bagi orang lain, semata karena mengharapkan ridho Allah dan takut akan azabNya. al Abrarr seorang mukmin yang pandai menjaga dirinya, ia memelihara dan khusyuk dalam shalatnya, memenuhi nazar, menepati janji dan berupaya menjaga amanah. Al Abrarr sifat seorang mukmin yang senantiasa berupaya menjaga kehormatannya dan menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak memberikan manfaat dunia dan akheratnya.
Semoga kita semua dimudahkan untuk meraih cintaNya,melatih diri dengan sifat yg disukaiNya. Sebagaimana orang yang berlatih, sedang berupaya membiasakan diri dengan perbuatan yang baik, tentu saja akan ada cacat cela, kepayahan, sesal dan kesedihan, karena itulah kegelisahan orang mukmin saat memeriksa dirinya, yang akan membuat mereka terus berupaya meraih ridho Allah sambil tidak berputus asa dengan rahmatNya. wa Allah A’lam

3. Fatamorgana

Boleh jadi apa yang kamu lihat, tidak benar-benar ada. Tetapi apa yang tidak bisa kau lihat, sebenarnya ia menguasaimu.
Kita renungkan QS. an Nuur:39, QS. An nuur; 41-42 QS. al Furqan:43 dan QS.
Fatamorgana:
1. Amalan orang-orang kafir
2. Perbuatan baik orang beriman yang bukan karena Allah (semata ingin mengharapkan pujian manusia)
3. Angan-angan manusia
4. Perbuatan baik dari orang yang suka mencela, menggunjing atau membuka aib orang lain
5. Hawa nafsu yang tidak di ikuti oleh keimanan dan ketakwaan
6. Kenikmatan dunia yang tidak ditunaikan kewajibannya dan melalaikan hukum atau tatacara perolehan yang baik
Dan kepada siapakah kita berserah diri, kepada keinginan? kepada orang-orang yang lalai ataukah kita berserah diri kepada Allah yang menguasai kerajaan langit dan bumi, yang kepadanya semua makhluk akan kembali.

4. Hakikat Doa seorang Mukmin

Doa, berfungsi sebagai ibadah, permohonan, sedekah dan nasehat. Doa yang banyak mengandung nasehat bagi diri sendiri adalah doa yang Allah contohkan dalam alquran dari hamba-hambaNya yang shalih para nabi dan Rasul. di dalamnya tersyirat apa saja perkara dunia akherat yang memiliki keutamaan untuk dimintakan kepada Allah, sekaligus mencerminkan itulah perkara yang Allah suruh kita mengusahaknnya. Salah satunya Perhatikan doa nabi Ibrahim dalam QS. Ibrahim: 35- 41. Dalam kandungan doa nabi Ibrahim as merupakan isyarat apa yang utama bagi kehidupan manusia dan apa yang harus di ikhtiarkan.
Berdoa adalah pembicaraan rahasiah antara hamba dan Allah, meskipun terkadang perlu juga doa itu diperdengarkan kepada orang yang dimagsud. Doa tidak hanya permohonan langsung yang terucap. Kesungguhan berusaha atau berjuang adalah bagian dari doa. Beruntunglah, orang yang Allah beri hidayah untuk berdoa. Dan Sebaik-baiknya doa, adalah permohonan untuk diberikan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Namun, doa juga merupakan cermin diri seorang hamba. Renungkanlah, urusan apa yang sering kita mintakan kepada Allah. Urusan nikmat dunia untuk diri sendiri, doa kebaikan bagi orang lain, doa permohonan ampun, atau berdoa sebagai refleksi kerinduan kepadaNya, tidak hanyanya memulu permohonan diri. Atau boleh jadi doa kita, adalah refleksi kebencian dan kedengkian yaitu kita berdoa lebih lantang saat marah, penuh semangat ingin membalas.
Banyak orang berdoa kepada Allah, tetapi perbuatannya dan akhlaknya kepada Allah tidak seperti layaknya orang berdoa. Ia berdoa dengan keyakinan bahwa apa yang diinginkannya adalah yang terbaik dan pasti dapat memberikan keuntungan bagi dirinya, ia bersikap dialah yang tahu Allah tidak tahu, ia berdoa kepada Allah tetapi tidak menyandarkan segala urusannya kepada pengetahuan dan kehendakNya. Ia berdoa kepada Allah, tidak disertai rasa percaya, doanya penuh dengan keluh kesah, terburu-buru dan ingin bersegera di kabulkan, hingga muncullah sangka buruk dan putus asa, akhirnya ia enggan bersabar dan melupakan doanya. Dan yang terburuk yang sangat Allah tidak suka, saat seorang hamba berdoa kemudian Allah kabulkan, ia menganggap apa yang di karuniakanNya sebagai tanda kemuliaannya, hingga bangkit takaburnya, kemudian ia banggakan usahanya dan berperilaku seakan ia tidak pernah berdoa kepada Allah.

5. Kekayaan tersembunyi

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah yang baik-baik sebagian dari hasil usahamu dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 2:267)”
1. Nafkah yg paling utama, harta yg kamu sukai, atau harta yg baik (memilki nilai manfaat yg menyenangkan penerima) bukan harta yang bahkan kamu tidak ingin menggunaknnya, bahkan dengan sengaja memilih yang buruk-buruk.
2. Bersedekah_pun tidak boleh berlebihan/boros. hingga mengubah seseorang dari pemberi jadi harus di beri.
3. Sedekahnya seseorang karena Allah, artinya ia sedang menyerahkan segala urusannya kepada yang Maha kaya. maka Yang bersedakah hatinya akan tentram
4. Kebaikan apapun yang kita usahakan, Allah yang Maha terpujilah yang memberikan pujian menurut kehendakNya, bukan kebaikan tersebut. Karena itu segala sesuatu menurut kepada niatnya.
5. Agar hati dapat terjaga keikhlasannya, berbuatlah kebajikan bukan semata ingin menenteramkan rasa belas kasih atau simpatik, melainkan ingin taat dan meraih Ridho Allah
6. Jangan meminta sesesuatu kepada sipenerima, yang kita ketahui ia akan segan menolak karena sudah diberi. Atau karena merasa kita sudah memberi, kemudian memanfaatkan sipenerima sesuka hati.
7. Harta yang harus dinafkahkan, ada yang hukumnya wajib dan sunnah, jangan karena sudah menunaikan yang wajib, lantas kita berbuat kikir dengan urusan yang sunnah

6. Tujuh pintu menuju tempat “Penyimpanan”

“Dan sesungguhnya Jahanan itu benar-benar tempat mereka semuanya. Ia mempunyai Tujuh pintu. Setiap pintu untuk kelompok tertentu.”QS.al Hijr: 43-44
Sebagian ulama, menafsirkan ada tujuh nama neraka yang masing-masing memiliki tingkat-tingkat tertentu: Jahanam, Lazhaa, al Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim dan al Haawiyah.
Seorang mufasir menguraikan kenapa ada tujuh, karena sumber dosa manusia secara kasat mata ada tujuh melekat pada setiap orang, yaitu mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, kaki dan tangan. Namun ketujuh bagian itupun menjadi sumber ketaatan kepada Allah swt, dengan syarat di niatkan karena Allah dan sesuai dengan hukum-hukumNya.(Penjelasan saya ringkas)
Dan, seorang muslim minimal dalam setahun Allah didik untuk mengendalikannya melalui puasa di bulan suci Ramadhan. Selama berpuasa, Minimal setiap orang di latih dengan cara berulang-kali untuk mengekang dirinya melalui pandangan yang harus di tundukan (tidak melihat perbuatan fasik atau aurat yg bukan haqnya), telinga di tahan dari mendengar perkataan yang mengandung dosa dan pelanggaran. Dan Selama berpuasa lidah, perut, kemaluan menjadi salah satu yang paling utama untuk di kekang dari memuaskan rasa haus, nikmat makan dan nikmatnya seks. dan terakhir dengan berpuasa kaki dan tangan seorang muslim di kekang dari berbuat dan melangkah ke dalam perkara yang tidak Allah Ridhoi.
Minimal, pengendalian diri inilah yang dapat diperbaiki. Rugilah kita jika pendidikan Allah yang berulang kali, tidak juga berbekas dalam jiwa, tidak mendatangkan kerinduan untuk memahami hakikat diri ini dari sekedar pengendalian diri sendiri. Karena sejatinya seorang muslim memilki tugas sosial, menebar cinta, memperbaiki permusuhan dan saling mampu mengambil ilmu dan memberi manfaat dari satu sama lainnya.

7. Siapakah yang Allah dustakan?

Siapakah yang Allah Dustakan?
“Mereka itu orang- orang yang Kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka, dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak melakukan penimbangan (mengadakan suatu penilaian) bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat”.QS.al Kahf(18):105
Ayat-ayat Allah tidak hanya yang tertulis dalam lembaran-lembaran Alquran, ayat-ayat Allah berpentas bersama setiap kejadian dalam kehidupan, silih berganti bersama suka dan duka hati manusia. Bahkan ayat-ayat Allah melekat pada tubuh dan jiwa setiap hambaNya.. Dan kufur tidak hanya menyangkut Iman Islam, banyak manusia kufur terhadap nikmat Allah berarti juga nikmat dari orang-orang disekitarnya menurut ijin Allah. Mereka muslim yang fasik (bergelimang dosa dan pelanggaran) dan mereka yang kafir dan musyrik (menyekutukan Allah)
Orang berilmu yang kufur, ia menggunakan ilmunya untuk merusak dirinya dan orang lain.
Orang tua yang kufur, ia melalaikan anak-anaknya, tidak mendidiknya, memanjakan anak untuk memudahkan dirinya, hingga hatinya keras terhadap peringatan Allah.
Ulama yang kufur, menjadikan ilmunya untuk memperoleh keuntungan dunia, memperbanyak perdebatan dan mencari-cari kesalahan, mempersulit apa yang sudah Allah mudahkan, melonggarkan batasan Allah demi memperoleh dukungan pengikutnya. Menunjukan sedikit dari ayat-ayat Allah, menyembunyikan sebagiannya karena takut celaan manusia.
Anak yang kufur: enggan taat kepada orang tuanya, disebabkan bangkit kesombongannya. Menjadikan orang tua sebagai pelayannya dan menelantarkan mereka saat sudah tidak berdaya.
Pemimpin yang Kufur mengabaikan urusan rakyatnya, mengkhianati amanah, mendahulukan urusan pendukungnya dan tidak mengupayakan keadilan bagi rakyatnya.
Dan seburuk-buruknya kekufuran, mereka yang berbuat banyak kebajikan didunia, menggunakan nikmat Allah untuk menunjukan kebajikannya namun Ia mendustakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan menyekutukanNya.
Kebajikan mereka bagaikan debu dan wajah mereka bagaikan di tutupi kepingan-kepingan Malam. Mereka hanya akan mendapat keuntungan dunia yang akan punah seperti kebun subur yang di timpa kekeringan. Mereka akan menempuh jalan yang sempit lagi sukar, tidak memperoleh syafaat tidak juga cahaya yang akan menerangi mereka di sepanjang titian syiraat al mustaqiim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s