Cinta Sejati Cinta Hakiki:

“Demi sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul (Muhammad saw) dari diri kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang telah menderitakan kamu; sangat menginginkan (kebaikan) bagi kamu; terhadap orang-orang mukmin amat belas kasih lagi peyayang.” QS. at Taubah: 128

Demikianlah gambaran cinta seorang hamba pilihan, Cintanya bukan karena tak terpenuhinya keinginan hati untuk dirinya, cintanya bukan karena berharap kebaikan untuk dirinya, Cintanya bukan melulu birahinya, bukan hanya untuk isteri dan anak-anaknya, Cintanya untuk seluruh ummat, Cintanya telah mendekatkan yang jauh bahkan tak sejaman dengannya. Demikianlah cinta sejati, Allah hubungkan dengan semua hati yang tidak ada kesombongan di dalamnya, cinta yang berbalas, cinta yang bertautan, cinta yang akan dirasakan oleh orang-orang mukmin, meskipun tak bertemu muka. Maka cinta hakiki, tidak ada hubungannya dengan sabab musabab yang fana….Karena cinta hakiki penghubungnya adalah Allah yang berada diantara hamba dan hatinya, Dia Allah yang Maha mengetahui hati yang mana yang memiliki rahmat, yang menghendaki kebaikan.

Apakah yang di khawatirkan seorang mukmin, bukankah ia pemilik cintanya Muhammad saw, selama ia mengikuti sunnahnya, apa yang di cintainya. apalah yang dihawatirkan tentang cinta selainnya. Karena cinta yang berburuklah yang tidak berbalas. Cinta yang karena Allah akan menemukan rahmatNya dari arah mana saja yang Dia kehendaki.
Maka saat seorang mukmin mencintai, berserahlah pada yang Maha langgeng, cintalah dengan kendaraan kebaikan, karena kebaikan akan langgeng, sedangkan selainnya hanyalah buih yang mengambang, tampak dipermukaan namun tak memberi manfaat….Dan cinta hakiki, akan menemukan jalannya sendiri, akan menemukan pemiliknya sendiri (hati yang sama baiknya)

Banyak cinta yang dikalahkan oleh waktu,ada juga waktu yang menumbuhkan cinta. Nyatanya bukan pada adanya cinta,melainkan seberapa penting mengisi waktu.
Cinta manusia, seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, ia bukan sumber cahaya. namun jika dalam kegelapan pantulanpun memadai.
Manusia makhluk fana, namun fananya adalah jalan mendekatiNya, manusia tidak dapat mengenalNya sebelum ia bersingungan dengan semua yang fana.
Belum di sebut pencintaNya, sampai menyanggupi mencintai selainnya melebihi mencintai dirinya sendiri. Karena cinta itu sejatinya membumi.
“Jika kau mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad saw)”_alquran. Krn cinta teragungpun,hanya dijangkau kerendahan hati bukan kebanggaan.
Cinta manusia hanya sejauh mata memandang, sedalam akal memahami dan seluas hati merasakan. Lalu apa yang dibanggakan kepadaNya?
Cinta kepada Allah umpama wadah yang kosong, Dialah yang mengisinya. Cinta kepada manusia umpama wadah yang terisi, ialah yang harus membagi.
Refleksi cinta kepada Allah, adalah ketinggian akhlak kepada manusia. Ego spiritual adalah dustanya cinta dari para pendusta.

Dan kesedihan para pecinta….;
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang dikehendakiNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk”. QS. Al Qashash: 56

Mereka yang menggunakan akalnya untuk mencari perkataan yang lebih baik, mereka yang mensucikan jiwanya, mereka yang tidak menutup hatinya dengan kesombngan, merekalah penerima cinta di atas cinta dari pemilik cahaya di atas cahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s