Hati yang Ramadhan

Indahnya Ramadhan, sujud bersama yang sujud, lapar bersama yang lapar, terjaga bersama yang terjaga. Menghidupkan hati sejak pagi hingga sepertiga malam-malam suntuk. Sesuap berkah, seteguk berkah. Tadaarus, dzikir hingga suju berlipat ganda. Bahagia dengan yang sedikit, berbagi dari yang banyak. Dan tiada waktu yang terasa begitu cepat, selain waktu-waktu di bulan Ramadhan. Hanya dari lapar dan dahaga seolah menyerap seluruh hati makhluk Allah, untuk tunduk sujud menghadapkan hati kepada-Nya. Ritual seluruh anggota tubuh, hasrat hati, puasa adalah ritual yang tidak dapat dimegah-megahkan dan berbangga dihadapan orang lain, selayaknya ibadah lain (haji, umrah hingga bersedekah) dimana manusia akan memuliakan atas hajinya dan berterimakasih dari sedekahnya, hingga banggalah hati. Namun bagi ibadah puasa, bagaimanapun seorang muslim berpayah-payah dalam puasanya, hanya Allah yang memberi “nilai” hatinya atau sekurang-kurangnya bagi lapar dan dahaganya.

Dan dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman: Setiap amal yang dilakukan anak adam adalah untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Dia tidak makan dan tidak minum karena Aku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahgiaan saat bertemu dengann Rabbnya kelak. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada aroma minyak kesturi. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dibulan Ramadhan, Allah hidangkan segala yang dapat memperindah hati, berkumpulnya segala kehendak manusia kepada kebaikan, karena setiap mukmin begitu mengharapkan pahala dan kemuliaan di hadapan Allah. Semalam seakan memenuhi waktu sebanyak seribu bulan. Terhidang segala yang dapat memperbaiki hati, dari mulai keutaman menahan lapar dan dahaga, membelenggu syahwat atas kelezatan manusiawi, mematut diri pada kesederhanaan berbicara dan bertingkah laku dihadapan manusia lain, merajut cinta di malam-malam sunyi dari tegak hingga sujud, dzikir yang melangit hingga tadaarus dari surat-kesurat. Semua mendapatkan syukur Allah yang berlipat ganda. Di bulan Ramadhan dilembutkan hati orang-orang beriman, agar bertaut kasih kelapangan kepada kesempitan, semua hati seolah terhubung atas nama Allah untuk saling memberi kelapangan.

Demikianlah keindahan Ramadhan,Namun sungguh tidak alang kepalang sifat manusia yang dilamun nikmat dunia dan terhanyut dalam syahwat manusiawinya, hingga Ramadhan hanyalah kapayahan dalam lapar dan dahaga, hatinya tidak berpuasa, kehendaknya bebas di liputi oleh ke akuan dirinya. Akhlaknya tetaplah liar, ibadahnya bagaikan pasir yang tidak dapat digenggam dalam air. Kepayahan berpuasa tidak berbekas pada saat berbuka. Begitu adzan magrib dikumandangkan maka seketika nafsu liar bagaikan singa lapar yang dilepaskan dari kandangnya. Hati tertipu, ruh berpuasa seolah hilang tanpak bekas saat berbuka.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)

Jabir bin Abdullah al anshar ra berkata: jika engkau berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu ikut berpuasa demikian juga penglihatan dan lisanmu dari dusta dan semua yang haram. Janganlah mengganggu tetangga dan hendaklah kalian bersikap tenang dan tawadhu. Dan janganlah kau samakan antara hari berpuasa dengan hari biasa”.

Banyak musllim berlebihan saat berbuka, dihidangkan segala kelezatan seolah hendak memenuhi seluruh isi perutnya hingga ujung kerongkongan. Ruh berpuasa yang dihirup bersama lapar dan dahaga hanya menyisakan rangka kosong tanpak isi. Bagaimana tidak, kepayahannya selama puasa diberi penawar berupa kesenangan duniawi. Waktu yang berlalu di isi dengan perkara sia-sia yang memanjakan hati, pendengaran dan penglihatannya, atau sekurang-kurangnya dibiarkan “lambungnya” dimanjakan ranjang tidurnya. Bahkan tidak alang kepalang, nyata tampaknya ribuan orang berjejal bersilang sekat membelanjakan hartanya dengan berlebihan, demi mempersiapkan sebuah perayaan “akbar” di hari fitri nanti, membeli semua kepalsuan dunia untuk berlomba menghias sekujur tubuhnya demi menuai kekaguman orang-orang sekitarnya. Rasa lapar dan dahaga malah menjadikan mereka lebih mempertuhankan dunia. Dikira cukuplah berpayah-payah dalam lapar dan dahaga. Hatinya tidak ditanya, tidak dikoreksi, hatinya tidak ikut berpuasa. Menjalankan puasa bukan karena ingin mendekatkan diri kepada Allah melainkan sekedar meloloskannya dari kewajiban semata. Maka bilakah hati seharusnya diawasi.

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)

Kebiasaan Allah selalu memberikan yang baik sedangkan nafsu manusia seringkali mengusahakan apa yang yang bukan kebiasaan Allah (yang buruk), maka di bulan Ramadhan Allah akan”menghidangkan” kebiasaan yang baik. Bilakah kita dapat menikmati “hidangan Allah” yang sedemikian? Sehingga ketika Ramadhan berlalu, jiwa kita bagaikan seekor ulat yang keluar dari kepompongnya. Memiliki hati yang “bersayap,” hati yang Ramadhan, hati yang telah terbiasa dengan kebiasaan baik.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ramadhan telah datang kepada kalian. Bulan penuh barakah yang dicurahkan oleh Allah kepada kalian, maka Ia menurunkan rahmat-Nya, menghapuskan segala dosa dan mengabulkan doa-doa. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam mencari kebaikannya, dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan yang ada di jiwa, karena orang yang celaka adalah orang yang diharamkan rahmat Allah padanya. (Majma’ Zawa’id karya Haitsami. Dia berkata: diriwayatkan oleh Thabrani).

Hikmah berpuasa karena Allah

Puasa yang lillah, puasa yang disertai kehendak untuk memperbaiki diri, mensucikan jiwa dari nafsu yang merusak hati, lapar dan dahaga yang disertai dengan bertafakur, menimbang menakar sudah benarkah sujudku, sudah patutkah akhlakku, sudah tunaikah amal dan ilmuku, sudah tundukkah kesombonganku, sudah taklukkah nafsu kepada akal dan hati?. Maka puasa yang demikian, akan membimbing dan menempa seorang hamba kepada ketakwaan, pemeliharaan diri yang berkesinambungan, bukan kesadaran yang kondisional, bukan ketaatan yang didorong oleh rasa ‘gengsi’ dihadapan manusia, namun ketakwaan yang mengakar dan tumbuh subur dalam hati, ucapan dan perbuatan. maka Berpuasalah untukNya,dengan cinta dan keihklasan. Sebaik-baik hamba adalah yang memberikan banyak manfaat dalam keadaan lapar, jangan jadikan Ramadhan cuma untuk wisata rohani pribadi belaka.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

Maka seorang hamba yang berhasil lulus dari tempaan puasa selama satu bulan lamanya, akan lahir menjadi pribadi yang ihsan, yaitu:
1. Hati yang merasa di tatap oleh Allah
2. Hati yang tertuju kepada Allah
3. Hati yang memaafkan dan mawas diri
4. Hati yang bersegera dalam kebaikan (al abrarr)
5. Hati yang efektif dan produktif menggunakan waktu
6. Hati yang tidak mencintai dunia, namun takzim pada kehidupan
7. Hati yang senantiasa melakukan pengendalian diri
8. Hati yang siap berkorban di jalan Allah
9. Hati yang senan tiasa jujur
10. Hati yang senantiasa terdorong untuk menghidupkan malam-malam dengan mendekatkan diri kepada Allah

Penulis: Alfi Arni makhtaf (nama pena)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s