Doa-doa yang di Bungkam

ddDoa2 dalam alquran, bukan sekedar untuk dipanjatkan, tapi didalmnya terkandung isyarat bagi manusia:

Sungguh, dalam doa2 yg diabadikan…terkandung didalamnya petunjuk dan peringatan bagi kehidupan manusia tentang apa yg harus diperjuangkan dan diwaspadainya beberapa doa tercetus dari hamba2Nya, yang kafir maupun mumin, beberapa diajarkanNya melalui hambanya Muhammad saw, doa kaum wanita mendapatkan tempat tersendiri, juga doa para pemuda ashabul kafi, doa seorang nabi dalam ketakutannya (musa), kemarahan (yunus), kesedihan (muhammad)dan harapan (ibrahim). sungguh, doa tidak akan berhenti dipanjatkan …dalam kehidupan fana ini bahkan hingga akherat. jiwa dlm naungan kenikmatanpun(ahli surga) didalamnya mereka tetap berdoa.

Dan sungguh mencekam doa2 yg dipanjatkan oleh jiwa yg ingkar menuntut laknatnya, iblis dlm kedengkiannya dan doa para ahli neraka yang terjebak dalam sisksa penyesalan. Doa berbanding lurus dengan ikhtiar, dari doa2 yang diabadikan terkandung isyrata bagi apa yg harus diikhtiarkan manusia dan apa yang harus diwaspadainya. siapa dirimu adalah bagaimana isi doamu. apakah seorang sosialis, individualis…. dialogis….atau seorang spekulatif

Setiap jiwa berdoa……bahkan iblispun berdoa, doa adalah fitrah dari penciptaan, jin, malaikat, manusia dan setiap dari bumi , langit dan segala apa yg ada diantaranyapun memanjatkan doa sesuai dengan sifat fitrahnya. keimanan kepada Allah jarang diperdebatkan…tapi ketaatan menjadi relatif. Keimanan fitrah kemanusiaan, tiada ampun bagi yang menyekutukannya. Tapi ketaatan setiap hamba adalah rahasiahnya, meski dalam realitas sosial…sebagian Allah serahkan kepada manusia untuk menegakkannya. sungguh setiap diri berhadapan denganNya.

Maka tidak hanya dari hamba-hambaNya yang terpilih, dari mereka yang ingkarpun Allah mengabadikan doa-daoa mereka untuk diambil pelajaran. bahkan Allah memberitakan doa sebelum dipanjatkan sebagai peringatan bagi manusia, doa-doa dari jiwa-jiwa yang terkunci dalam ketamakan dan tergulung sifat kesombongan yang mendakwa kehendak dari yang Maha, ia tidak hanya mempertuhankan segala yang memikat nafsunya, ia bahkan mempertuhankan dirinya…kehendaknya. Suara yang tersembunyi dalam hatinya seolah terbungkam oleh kemahaan dirinya yang kerdil, ia tidak lagi mencari kebenaran, namun ia membenamkan kebenaran dibawah kakinya. Jadilah keakuannya seolah hendak melangit…ia tidak lagi dapat melihat kebodohannya yang mengingkari fitrah dalam hatinya. jadilah perkataannya kayu bakar yang disandarkan dalam liang-liang kuburnya.

Simakalah doa yang Allah abadikan dari hambanya yang ingkar berikut ini:

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. (QS. 8:32)

jangan duga, sifat-sifat demikian tidak bersarang diam dihati seorang muslim, jangan duga perkataan yang dipanjatkan itu tidak akan terbersit menski samar dihati seorang muslim, boleh jadi berubah kata namun sama pemaknaannya yaitu jiwa yang menantang kemahaan karena mengalun kesombongan yang meliputi hati yang mencoba mengingkari, akan kehendakNya yang disipati baik dan buruk oleh akalnya yang cuma sejengkal bayi. sehingga lahirlah doa-doa yang mengancam, menghakimi segala bentuk yang terjadi dalam kehidupan yang dia sangkakan dengan nafsunya tidak sepadan dengan ikhtiarnya.

Boleh jadi, kefasikan itu ada cuma tidak bersuara, belum lagi datang kepadanya ujian yang mempertanyakan keimanan yang ia elukan dalam hati dan melalui lisannya. boleh jadi tidak dinyatakan, namun hati dalam diam mempertanyakan setiap hukum yang Allah tegakkan, bersembunyi dalam permainan akal mencoba menafsirkan dengan bahasa kemanusiaan yang dangkal, atau paling tidak menyelusup sifat keengganan dalam menegakkan syariatnya….hingga yang shalat lalai dalam shalatnya, yang berpakaian menyingkap pakaiannya hingga menggoda menghanyut, yang mencari nafkah menyenggol takarannya, yang berkuasa mencuri keluguan dari kelemahan yang mengikutinya, semua bertolak ansur dari takaran yang seharusnya. boleh jadi kepalsuan itu bukannya tidak ada namun belum bertemu dengan suatu massa yang akan menampakkannya.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari takutnya. Mereka berkata: “Ya Rabb kami, mengapa engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun . (QS. 4:77)

Renungkanlah kata-kata iblis yang begitu tersurat keteguhan hatinya dalam dengki yang mengancam setiap jiwa, ia memohon waktu untuk memastikan bahwa ia akan berhadapan langsung dengan murka Tuhannya sampai waktu yang ditentukan banginya, dengan membawa sekawanan manusia yang kepada mereka ia tidak sudi merundukan kediriannya.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS. 7:14)

Sungguh….jadilah buih…..sebagaimana sifatnya….jadilah jiwa-jiwa terjebak dalam penyesalan yang tidak ada penawarnya,….namun penyesalan mereka bukanlah penyesalan yang terlahir dari keimanan, namun hanya bahasa culas yang disangkakan dapat membawa kepada kasih sayangNya. jangan duga ini hanya sifat para penghuni syakor, mungkin diam-diam bersarang juga dalam hati yang sujud, melipat kaki dalam sesak dan sesal. disangkakan sesal karena Tuhannya, padahal sesal itu tidak lebih kerena takutnya akan berkurangnya kebaikan yang dikuasakan kepadanya, atau enggannya hati bersabar akan pengajaranNya. Sungguh Allah maha mengetahui yang lahir maupun yang bathin, meski dlam doa jiwa mencoba membungkam hatinya. sungguh pengetahuannya meliputi segala sifat yang tersembunyi

Mereka menjawab: “Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. 40:11)

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. 33:66-68)

Dalam kehidupannya setiap jiwa dipertanykan segala yang dinyataknnya, perkataannya tidka akan dapat melampaui hatinya, meskipun ia dikemas dalam rangkaian bahasa yang bersayap. demikianlah doa-doa yang dipanjatkan oleh jiwa yang menantang, jiwa yang menghanyutkan diri dalam lautan kebodohan karena disamarkan oleh keangkuhan.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. 33:70-71)

Dan sebaik-baik seorang muslim ia mengenali dirinya, mengetahui apa yg harus di ikhtiarnya, mengimani kehendak-kehendakNya, kemudian ia perteguh hatinya dengan doa yang senantiasa dipanjatkan.

alfiarni makhtaf……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s