Sayap-Sayap Waktu

dscn00953waktu adalah persepsi dalam benak manusia, disebabkan kecintaannya terhadap sesuatu yang tidak memberikan kehidupan untuk hatinya, banyak manusia yang dikalahkan oleh persepsinya terhadap waktu (dengan tergesa-gesa, kelalaian dan putus asa). Allah bersumpah demi waktu, bukan hanya tentang awal dan akhirnya, melainkan juga tentang apa yang ada diantara keduanya….yaitu waktu-waktu yang di isi dengan perjuangan hamba-hambaNya dengan doa yang diliputi harap dan cemas, juga waktu-waktu yang di isi oleh jiwa-jiwa yang hanyut dalam angan-angan fata morgana dunia. Dan kita tidak bisa memohon pada waktu untuk bersegera atau memanjangkan usianya, karena setiaphal yang dilewatinya adalah kesempatanmu tentang nilai iman dan amal sholeh.

Dalam alquran Allah menyebut waktu dengan empat makna, dalam QS al ashr Allah bersumpah demi massa, mengisyaratkan betapa pentingnya atas apa yang Ia bersumpah kepadanya bagi manusia untuk diperhatikan sebagai peringatan. Allah bersumpah…demi massa, maka merugilah setiap jiwa yang kepadanya diberikan waktu kemudian ia mengisinya dengan sesuatu yang Cuma sekedar menyegarkan kulit dagingnya menunggu hingga waktunya ia menjadi busuk (mati). Sedangkan ia mengaku beriman, namun tidak menjalankan potensi dalam dirinya sebagaimana layaknya seorang yang beriman, yaitu mengisi waktu-waktu yang berjalan dengan sesuatu yang memberikan nilai manfaat bagi orang lain, perjuangan dalam memberikan manfaat melebihi orang-orang disekitarnya,atau mencoba untuk memberikan manfaat meski hanya sekedar dari lisannya yang menyerukan tentang kebenaran, lisan yang memberikan kelapangan. Mengisi waktu dengan semua amal sholeh yang memanjangkan usianya yaitu yang menyebabkan ia di ingat dan diteladani , meskipun kelak jasadnya telah terkubur berkalang tanah.

Demi waktu, Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran. QS. 103:1-3

Tidak hanya dalam perjalanan fitrah manusia, Allah-pun, mengingatkan melalui ketetapan syariatnya mengenai kewajiban shalat yang telah ditetapkan waktunya, dari ketetapan itu tersiratlah makna bahwa waktu adalah ketetapan dimana manusia yang hendak menapaki kebaikan dalam rentang usianya, hendaknya berbuat berdasarkan ketetapan waktu, tentang apa saja yang hendak ia lakukan, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, ia terikat waktu yang kepadanya ia taat. Siapa yang dalam keadaan duduk maupun berlari, bahakan dalam kesibukan dan ketakutan, maka ia akan dihentikan oleh ketetapan waktu dalam syareat-syreatnya untuk di taati.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103)

Dan jangan duga, seseorang telah cukup menyatakan dirinya telah beriman, sebelum dia rasakan dalam putaran waktu Allah mengujinya dengan perintah dan larangan, untuk melahirkan apa yang tersembunyi dalam jiwa, agar setelah itu tidak ada siapapun yang dapat bertawar kata tentang nilai dirinya dihadapan Allah yang maha mengusai lahir dan bathin. Maka dalam setiap waktu-waktu setiap jiwa tengah dihadapkan pada pertanyaan besar, yang akan menghantarkannya pada berhak-atau tidaknya yang dia nyatakan, “Tuhanku sesungguhnya aku beriman kepadaMu!”

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. QS.76:1-3

Pada akhirnya dalam untaian waktu, dimana setiap jiwa saat tidurnya di bolak-balikan kekanan dan kiri, di ujikan kepadanya hingga ia tertawa dan menangis, ketakutan, dan di ujikan kepadanya tentang dunia dari duduk hingga bangkit…sampailah ia kepada waktu terakhir dimana semua permainan kata, peran, dan ribuan tipuan dibahasakan kepada jiwa manusia akhirnya dipertemukan kepada ujung tenggorokan yang tersenggal mencoba menarik nafasnya satu demi satu, bertaut lutut mencoba menahan ruh yang ditarik bersama waktu yang tinggal hitungan detik, tidak lagi menyisakan bagi terlaksananya apa yang diniatkan setiap jiwa. Bahkan berakhirlah semua yang dikuasakan padanya, berakhirlah keakuan pada setiap jiwa manusia.

Katakanlah: (Muhammad)”Aku tidak kuasa menolak kemudharatan maupun mendatangkan manfaat kepada diriku,kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap ummat mempunyai ajalnya (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun. (QS.Yunus 10:49)

Demikian, wa Allah A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s