Hati adalah kunci

setiap diri senantiasa dapat dilampaui oleh hatinya,hati tidak dapat didahului oleh akal, tidak dapat dipalingkan oleh khayal. tidak pula dapat disembunyikan oleh tipuan ragawi yang menjadi tempatnya bersemayam.

hati manusia bolak-balik melampaui kecepatan yang dapat dijangkau oleh waktu.

Abdul Qadir Al-Jaelani berucap: “Hati itu tempat ilmu hakikat karena ‘latifatur Rabbaniyyah’ yang mengatur bagi sekalian anggota badan. Hati itu alat penembus hakikat…”

Al-Bazari berkata: “Dalam hati itu terdapat sifat ‘Al- Latifah’, ‘Ar-Rabbaniyah’, dan ‘Ar-Rohaniyah’ yang bersangkutan dengan tubuh manusia.

Kepada hatilah segala pensifatan dan perwujudan manusia bergantung, kepada hatilah segala pandangan akan bertanya, kepada hatilah segala yang terjangkau pendengaran akan bergantung bagaimana jangkauannya. Kepada hatilah segala yang diujikan kepada manusia akan ditentukan berat ringan takarannya.

Pandangan pendengaran, dan segala yang dapat terjangkau oleh indra memiliki jarak dengan akal dan khayal, bahkan antara akal dan khayal keduanya tidak pernah mendahului atau didahului, keduanya senantiasa berkejaran, namun hati meliputi seluruh bagian wujud manusia, yang lahir maupun yang bathin, dan hati berada pada ketinggian derajat manusia, karena hatilah yg menjadikan segala yang terputus menjadi terhubung, hatilah yanga menjadikan segala yang samar menjadi nyata, yang jauh menjadi dekat, hatilah yang menjangkau melewati hukum dimensi jarak dan waktu. Hati menciptakan keterhubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, dan jika ada dalam diri manusia yang dijadikan Allah tempat yang teramat dekat dengan hambaNya maka hatilah tempatnya. Hati satu tempat yang menjadikan manusia tidak berjarak dengan Tuhannya, hati menjadikan manusia berhadapan dengan segala sifat Allah.

Namun dengan semua yang disifatkan pada hati, seringkali hati menjadi satu-satunya yang tidak dicari oleh pemiliknya, tidak dikenali, bahkan banyak manusia yang berpaling dari hatinya. Disangka segala yang diinginkan dan dibutuhkan yang akan membawa kepada ketentraman, membawa kepada pemeliharaan, namun ketika semua itu terhalang atau Allah angkat, tersadarlah…akan hati yang tidak pernah dipautkan.

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthofifin : 83)

Al-Haj ayat 46 berbunyi: “… Karena sesungguhnya yang disebut buta itu bukanlah buta matanya, melainkan buta hatinya yang letaknya di dalam dada.”

Ah…betapa manusia seringkali terlalu jauh jangkauan pandangannya, sedang apa yang diijnjak kakinya kerapkali terlupakan…..seseorang begitu rupa dileu-elukan, dikelilingii hasrat untuk mencintainya dan dicintai olehnya, semua yang diinginkan dan dibutuhkan menghampirinya, seluruh tubuhnya diselimuti segala yang diidamkan oleh nafsunya, namun sepanjang waktu yang menjadi kendaraannya takjuga semua itu membawa ketentrman kedalam hatinya. Kunci-kunci pembendaharaannya taksanggup memberikan rasa aman jiwanya, ia hanyut dalam takutnya, kesepiannya, ia hanyut dengan apa yang sebenarnya jauh darinya, tertipu oleh akal dan indranya

Tinggallah hati manusia berada dalam ketidak cukupan, rapuh …bahkan tidak sanggup memerintahkan kaki untuk berdiri tegap , agar sekedar tetap bisa berjalan. Hati yang ditinggalkan, hati yang tidak pernah dipertanyakan, hati yang luput dari perhatian, hati yang tidak pernah disentuh oleh pemilIknya sendiri, hati yang tidak pernah dihubungkan kepada penengahnya, kepada yang menguasainya, kepada yang menentukannya, yaitu “Allah yang senantiasa berada diantara hamba dan hatinya”. (ALQURAN).

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’

Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’

Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

“Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya” (Bukhari dan Muslim),

bukanlah lapar yang akan menjatuhkan, bukan pula kekuasaan seseorang yang akan menjadi pasungan, bukan pula ketidak tahuan yang akan mengasingkan, bukan pula jiwa-jiwa yang menjauh dan berpaling yang akan melemahkan. ketidak berdayaan seseorang hanyalah disebabkan hatinya, maka seumur hidupnya seorang hamba tetaplah berhadapan dengan hatinya.

bukan ilmu pengetahuan yg akan membawamu kepda takwa dan tawakal, bukan harta dan kekuasaan yang akan membaw jiwamu kepada tentram, bukan mencintai dan dicintai yang akan membwa jiwamu kepada kecukupan. tetapi hati yang ditentramkanlah yg akn mnjd sebaik-baik pendamping, “hubungkanlah dirimu dengan hatimu melalui penengahnya, yaitu Allah, dia-lah yang mengusai segala yang tersembunyi dalam dirimu. Maka mohonkanlah pertolongan kepadaNya tentang hatimu. Bawalah diri kepada washilah terbukanya akan pertolongan Allah kepada hati, carilah jalan-jalannya, pelihara tempat-tempatnya, tempat dan jalan-jalan pada apa yang diperintahkanNya dan apa yang disediakan untuk kelebihannya. wa Allah A’lam

bandung,alfiarni……………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s