Refleksi Sudut Pandang

Allah memberikan potensi kepada ummat manusia untuk menjadi pemimpin di dunia, dengan segala kreatifitas berfikir yang bisa dikembangkan dalam setiap peradaban dan keragaman budaya yang di hasilkannya. Islam sangat terbuka dengan keragaman …berfikir dan kreatifitas manusia dalam mensiasati problematika sosial termasuk didalamnya keberagamaan.

kita sudah terlanjur terperangkap dengan budaya membelenggu diri dalam sebuah batasan devinisi seperti pengertian sekuler dan apa itu nilai-nilai Islami.

selama yang kita kedepankan terlebih dahulu, adalah simbol, nama2, istilah, maka selama itupula, pertentangan antara mana yang lebih baik tidak akan melahirkan solusi. selama yg diangkat kepermukaaan harus berarti nama negara Islam, selama itupula sejarah akan berulang….dan selama kata sekurelisme disuguhkan dalam bentuk pertentangan antara nilai-nilai islam, selama itu pula kreatifitas kita dalam menemukan formulasi yg tepat dalam menciptakan sebuah perubahan, akan terus di batasi oleh rujukan teks-teks yg jauh dari permasalahan kontekstualnya.

contoh;Konsep zakat sebagai media pemberdayaan ekonomi masyarakat, akan lebih cepat terealisasikan, jika dalam aplikasinya meleburkan simbol-simbol, istilah,yang membuat peran zakat jadi sangat terbatas. tidak lebih dari sebatas mesjid, yayasan islam, gelar meja setiap menjelang id.

Kita memang memerlukan nama sebagai identitas, tetapi dalam realitas sosial jangan menempatkan itu malah jadi sekat antara keragaman nilai-nilai, tentu saja dengan tetap memegang teguh apa yang dalam alquran dan sunnah tidak diberi ruang untuk sebuah kebebasan berfikir dan bertindak. Karena dalam menempatkan ilmuNya, Allah memberikan potensi kepada semua manusia untuk mencari dan memperolehnya, tidak ada batasan antara yang muslim maupun tidak. Dalam kehidupan sosial yang begitu beragam, bagaimana kita mengemas sebuah pemikiran atau kebijakan yang diharapkan dapat menciptakan perubahan yang lebih baik , sama pentingnya dengan hasil akhir dari tujuan yang diharapkan. Setidaknya dari kemasan seseorang dapat tertarik untuk mau mendengarkan, sampai akhirnya mau ikut bersama-sama menciptakan perubahan, karena tidak merasa terancam dan dibatasi kepentingan akan nilai-nilai yang mereka anggap benar.

Sejarah telah ikut meng abadikan bagaimana seorang umar bin Khattab mewujudkan nilai-nilai dalam kehidupan bernegara dan sosialnya, tanpa harus menjadikan nilai-nilai Islam tanpak seperti mengekebiri realitas social yang sebenarnya bagian dari keuatan proses kearah kesadaran akan pilihan yang lebih baik. Dari abad berikutnya kita punya Pemikiran Gusdur yang sangat kontrofersi, namun ada banyak point yang bisa kita renungkan ulang dari dua pemikiran tokoh penting ini. wa Allah Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s