Ayat-Ayat Membungkam

Bagaimanakah akal manusia menjadi muara segala tanya, keraguan dan sanggahan yang dipenuhi kesombongan dan pengingkaran terhadap ayat-ayatNya, yang karenanya para Nabi diutus untuk kaumnya dan para Rasul mengemban titah sebagai pembawa peringatan dan kabar gembira.

Bagai mana mungkin manusia mengira dapat bersilat lidah demi mematahkan ayat-ayatnya yang berbicara tentang penciptaan mereka sendiri, menunjukan semua yang tidak dapat dijangkau oleh akal mereka untuk diserupakan dengan kekuasaannya. Jika bisa, bagaimana manusia dapat mempertanyakan pekerjaan sebuah planet besar yang menjadi pusat planet-planet yang mengitarainya, menjadi sumber energi bagi kehidupan makhluk-makhluk di bumi.

Bagai mana kiranya manusia dapat menemukan jawaban mengapa begitu banyak keragaman bahasa yang lahir dari peradaban manusia yang telah menjadi media mereka mengekspresikan dirinya antara satu dengan yang lainnya, dapat saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Hanya sedikit langkah dari itu semua, bagaimana manusia dapat menemukan celah kekeliruan penciptaanNya, yang telah menjadikan jiwa manusia dapat merasakan permainan emosi dalam dirinya, hingga ia mampu mendorong dirinya sendiri untuk menciptakan perubahan yang lebih baik, memberikan perlawanan, meraih dan memperjuangkan apa yang diinginkan jiwanya, saling berkasih sayang, menyampaikan rasa suka dan benci, mengekspresikan kesedihan dan kebahagiaan, dari semua itu bagaimanakah lagi celah itu dapat dicari dan dipertanyakan.

Bukankah akal manusia itu sendiri secara fitrah tak dapat lagi mengingkari, bahwa apa yang ada pada dirinya dan apa yang mengitarinya adalah hasil dari kehadiaran Dia yang maha menguasai segala apa yang diciptakanNya.

Mana kala kekufuran itu telah sampai ketenggorokan untuk dinyatakan dengan penuh kesombongan, bagaikana kecepatan seribu sayap malaikat, sebuah ayat membungkam kesombongan manusia sampai akhir jaman.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan?” (QS 55:13)

Ketika ketidak puasan merajai setiap ketamakan manusia, keinginan mengusai dan menjadi paling terdepan dalam kehidupan dunia, serta merta manusia mengerahkan segala daya upaya untuk menantang alam raya demi membuat suatu kerajaan dunia yang dapat mengabadikan kekuasaannya dan ilmu pengetahuan yang dapat setinggi mungkin ditemukan seolah hendak membuat tangga-tangga keatas langit, bagaikan keponggahan firaun yang menantang ingin melihat Tuhan yang dia pertanyakan. Celoteh demi celoteh di propagandakan bahwa mereka bangsa dan sekelombpok manusia yang terkemuka dan membuat perbaikan dimuka bumi, padahal mereka hanya mempertontonkan kebodohan dan kekuasaan yang rapuh, bagaikan dikalahkan oleh rayap yang memakan kayu penyangga. Lagi-lagi, barisan ayat-ayat membungkam tidak menyisakan celah untuk memberikan sanggahan.

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al baqarah:11-13)

Tidak pernah akan sampai kepada ujungnya, tidak juga kaki berpijak kokoh diatas air, dan hembusan angin tidak akan pernah kembali ketempat semula, ia akan berlalu sebagaimana waktu yang tidak akan kembali, namun dalam bisunya menyimpan semua gerak dan riak dari kehidupan setiap makhluk ciptaanNya, tiada yang akan luput dari pengamatanNya meski hanya sebutir pasir yang tertinggal dihalau ombak. Tidak satupun manusia yang akan mampu berpaling dari pertanggung jawaban, meski ribuan kali ia mengingkari bukanlah Dia TuhanNya, meskipun berhala-hala dicobakan menjadi penyanggah ketakutannya mereka yang tersembunyi. Tidak satupun yang akan luput, tidak akan ada yang tertinggal dan tidak akan ada yang bisa menunda jika waktu telah sampai kepada ketetapannya. Semua mulut lagi-lagi akan dibungkam, kesombongan akan bertekuk lutut.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al An’am :69)

Semua manusia tidak akan dapat menemukan kata yang dirangkai sedemikian rupa untuk mempertanyakan maupun memberikan sanggahan, bahkan tidak satupun dari jiwa manusia yang dapat bertipu muslihat dengan fitrahnya sendiri. Maka semua sumpah serapah, pengingkaran, dan kesombongan akan kembali kepada pemiliknya untuk diputarbalikan, tampa kuasa ia menyembunyikan maupun menahannya.

“Dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan”. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya. (Ash-Shaaff :20-21)

Demikianlah, sedikit dari ayat-ayat yang membungkam kesombongan dan tipu muslihat manusia, sifat-sifat demikian akan senantiasa ada sampai akhir jaman. Jangan di duga hanya di miliki sikafir yang terang-terangan mengingkariNya, atau mereka yang memiliki kemunafikan (penyakit hati)dalam dirinya, karena syetan akan senantiasa mempersiapkan diri sebagaimana tingkatan manusia yang akan dihadapinya. Dalam diri manusia Selalu akan ada celah untuk menyelinap segala keraguan , pertanyaan-pertanyaan kecil, bahkan kesombongan seketika menjadi bagian dari dzikir, shalat, tadaarus, dan dalam semua aktifitas seorang muslim. Maka merugilah seorang muslim yang mersa aman dari perbuatan tercela, merasa cukup aman atas apa yang telah dilakukannya.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? . Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al ‘Ankabut :2-5)

Maka bungkamlah segala penyakit hati yang menyelinap, dengan Istigfar. Sebelum Allah menbungkam segala kesombongan dalam diri kita dengan caraNya. Wa Allah A’lam

Alfiarni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s