ar-Ra’d

Bagaimanakah manusia mampu menilai apa yang dapat dilakukan Tuhannya, demi apa yang dianggap lebih dapat menyelamatkan. Manusia sangat bertumpu pada apa yang bisa dimengerti oleh pandangannya, yang sering kali bergantung pada jarak dan bentuk, bertumpu pada ketajaman pendengaran, yang kerapkali disamarkan oleh apa yang lebih menarik bagi dirinya, bagaikan seorang pencinta yang sedang mengagumi gadis pujaan, yang karena terhanyut jiwanya ia tidak dapat menangkap suara disekitarnya.

Manusia seringkali tertipu manakala ia bergantung pada daya jangkau akal, yang hanya sebatas persepsi yang relatip nilai kebenarannya. Namun semakin terbatas apa yang bisa dipahami manusia, menyebabkan ia kerapkali menghakimi apa yang tidak dimengertinya, demi apa yang begitu ia yakini dapat memuliakan dan menyelamatkan. Manusia menganggap ikhtiarnya adalah ujung pangkal dari keberhakannya untuk mendapatkan apa yang diperjuangkan.

Sungguh telah luput dari kebanyakan manusia, akan sifat Allah yang berbuat dan berkehendak berdasarkan ilmuNya, yang mendahului apa yang diciptakanNya, sifat Rahmaan dan RahimnNya yang tidak akan ada satupun makhluknya yang akan luput dari keadlin pemberiannya.

Merajuk hati manusia kepada Tuhannya, bermuram durja hingga hilang cahaya kesyukuran dari wajahnya, manakala apa yang menjadi idaman dan diperjuangkan, hanya sebatas berbuah peluh keringat didahinya. Kahendak Allah yang disuguhkanNya dengan rahman dan rahimNya, dinafikan, dianggap sebuah kegagalan. Dibiarkan dirinya terpasung dalam belenggu khayal dan keinginannya, hingga lapuk tubuhnya, mengeras jiwanya, dan hilang sudah nilainya sebagai manusia, yang seharusnya lebih tinggi manfaatnya daripada keinginannya. Manusia dengan keangkuhan kehendak duniawi, enggan keluar dari lingkaran obsesi yang diciptakannya sendiri.

Sungguh, bagaimanapun Allah menempatkan seorang hamba dalam riak kehidupan yang diujikanNya, tidak akan berkurang mulianya dangan hamba-hambaNya yang lain yang di ijinkan lebih tinggi derajatnya dimata manusia yang lain. Ia Allah mengetahui hamba-hambaNya melebihi setiap diri, yang merasakan setiap desah nafasanya. Mustahil berbuat aniaya, mustahil Allah membelenggu “tanganNya” menafikan ikhtiar dan do’a hambaNya, mustahil Allah menakar kehendakNya untuk setiap manusia berdasarkan kekuasaanNya semata, tanpa diiringi oleh sifatnya yang maha lembut. Bukankah seekor singa tetaplah dalam dirinya Allah ciptakan rasa kasih sayang kepada anaknya?

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya,Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
QS. ar-Ra’d (13) : 8-9

Pernahkah hati menggerutu, merangkai sumpah kebencian, menghitung mati-matian untuk setiap apa yang telah diikhtiarkan dan menghakimkannya kepada Allah, dibalik doa’ yang semu, disembunyikan dari bisikan bahkan raut wajah, hanya demi nilai akan ujung dari sebuah perjuangan, yang ternyata Allah berkehendak agar hambaNya bersabar?. Doa menjadi terputus, semangat menjadi tinggal hitungan kata, keluh kesah menjadi bahasa yang diteriakan satu-satu, seolah menuntut semua manusia berbela sungkawa, bahkan mempertanyakanNya.

Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. QS. ar-Ra’d (13) : 10

Manusia yang marah kepada Tuhannya, berjalan dimuka bumi dengan kesombongan dan kedengkian terhadap dirinya sendiri, mencaci maki setiap miliknya yang tidak sesuai dengan kehendaknya, menjadikan ikhtiarnya sudah lebih dari cukup, menganggap keinginannya adalah satu-satunya yang harus diwujudkan, mimpinya menatap jauh keatas seolah ingin memeluk langit, sementara ia mengecilkan setiap jengkal tanah dari bumi yang dipijaknya.

Mengapa tidak melihat bagaimana seorang wanita renta yang memecahkan batu demi sesuap nasi bagi anak-anaknya?!, setiap hari keluar dari pelukan selimut berlubang, menembus dingin yang menggigit, untuk berusaha keluar dari rasa lapar yang melilit, yang akan anak-anaknya alami jika ia tidak menegakkan lutu.

Mengapa tidak sejenak merenungkan, seorang anak palestina, yang setiap hari tidak lagi bisa membedakan mana lumpur dan darah yang diinjaknya disudut kota, berlari dari ketakutan, melipat kesedihannya, menyembunyikan erang tangisnya diujung tenggoronkan, demi mengais bebatuan untuk dilemparkan kepada tentara-tentara yang mati hatinya, berharap setiap batu yang dilemparkan dapat mengeluarkan ayahnya dari perih penyiksaan, membebaskan ibunya dari nafsu durjana tentara-tentara yang hilang akal.

Mungkin, kita…hanya harus menanggalkan gelar sarjana dan berkutat dipasar berlumpur untuk berjualan sandal. Mungkin hanya harus bangun dipagi buta mengajar mengaji di surau-surau yang lapuk, mungkin hanya sekedar harus rela menjadi pegawai pabrik, mengurai benang, mengepak barang. Mungkin kita hanya harus merelakan mimpi, bahwa seharusnya setiap hari memarkirkan kendaraan pribadinya diperkantoran ternama, berdiri ponggah mempresentasikan rancangan tata ruang perumahan elit hayalan dengan tatapan kekaguman yang bisa dinikmati setiap hari. Mungkin Cuma harus keluar dari lingkaran, menjadi sesuatu yang diinginkanNya, yang jika rela dijalani, maka akan bertemulah jiwa dengan kebahagiaannya.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.QS. ar-Ra’d (13) : 11

Jangan disangka, bahagia itu jika kita bisa menikmati tawa dan canda setiap hari, tubuh dimanjakan kenikmatan dunia, dari mulai pembaringan empuk sampai gelar kehormatan, apapun yang diinginkan tinggal gesek si kartu sakti.

Terkadang Allah menempatkan hambanya dalam kondisi menekan jiwa, menumbuhkan ketakutan, membiasakan rasa lapar, menundukan kepala, menjauhkan dari fasilitas dunia yang melenakan, membuat tangisan setiap malam yang menggiring hambanya duduk berlama-lama disudut mesjid, atau sekedar menguarai keletihan dan menerima caci maki orang setiap saat. Itu semua dijadikaNya tempaan agara hambaNya bisa keluar dari batasan-batasannya, bagaikan seorang yang lari tunggang langgang demi menyelamatkan hidupnya dari terkaman harimau lapar, tiba-tiba rasa takutnya membuat dia lari menembus kecepatan, padahal sebelumnya ia Cuma merasa bisa mengejar seekor anak ayam.

Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.QS. ar-Ra’d (13) : 12

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.QS. ar-Ra’d (13) : 13

Kesabaran, adalah mengepalkan tangan, menegakkan lutut, menerima sambil menjalani, mencari tidak hanya satu arah, tidak hanya satu harapan, tidak membuat standar tunggal, terkadang masuk lingkaran, terkadang memutuskan untuk keluar, dikali lain berletih-letih mengelilinginya. Dan buah dari kesabaran adalah memahami makna-makna yang tersembunyi, menciptakan kebahagian tanpa harus memberikan syaratnya.

Jangan diduga Allah luput dari mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya, janga diduga Allah akan mengabulkan sesuai dengan peta fikir hambaNya, terkadang kehendakNya keluar jauh dari apa yang diduga keterbatasan akal dan hati manusia.

Jangan menghitung dzikir dan menjadikan itu syarat yang pasti, jangan menilai shalat dan menganggap berhak menerima imbalannya, jangan menampung peluh keringat dan menimbang dihadapanNya demi keterkabulan. Doa adalah ibadah, bukti penghambaan, doa dan ikhtiar adalah pengakuan, jangan dijadikan berhala.

Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.QS. ar-Ra’d (13) : 14

Hanya kepada Allahlah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.QS. ar-Ra’d (13) : 15

Kehidupan adalah sebuah permulaan dari episode yang tidak menemukan kata akhir, yang terlepas dari batas waktu yang dipersepsikan manusia, kehidupan adalah pendidikan kontekstual dari Allah yang maha memelihara apa yang diciptakannya, agar manusia tidak lagi beralasan bahwa kepadanya belum diturunkan petunjuk dan pengajaran. Maka jangan menjadikan kehidupana bagaikan pintu akhir.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).QS. ar-Ra’d (13) : 22

(Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.
QS. ar-Ra’d (13) : 23

(Sambil mengucapkan): “Salaamun alaikum bima shabartum (Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu).” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
QS. ar-Ra’d (13) : 24

Wa Allah Alam
“Alfiarni”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s