Apabila Cinta

sDia Allah yang segala kesempurnaan dan keagungan menjadi milikNya semata, tiada yang dapat menyamai apalagi melampauiNya, ternyata Allah menghadapai manusia dengan sesuatu yang begitu sederhana, dengan kesabaran, dan kelembutan sifatNya. Sebaliknya seberapa keletihan dan kesulitan yang harus ditempuh manusia hanya untuk mendapat cinta dari seseorang yang diharapkannya, berapa banyak pengorbanan yang harus diberikan untuk setiap cinta yang ditujukan, untuk segala yang disukai hati manusia dari dunia ini. Tetapi untuk manusia yang hatinya telah berkehendak dengan kerendahan hati, menjadikan Allah sebagai tumpuan, sebagai penggerak dari tujuannya, yang segala harapan dipintakan kepadaNya semata, begitu sederhana Ia-Allah memberikan petunjuk, tanpak membebani hati manusia yang geraknya senantiasa berubah-ubah bagaikan pergantian siang dan malam.

Melalui ayat-ayat yang menggambarkan kebesaranNya, Allah memberikan ruang bagi keterbatasan manusia sebagai hamba yang diciptakanNya, yang kepada setiap hambaNya, Allah mencurahkan rahman dan rahiimNya sesuai dengan takaran yang dikehendakiNya.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Ali Imran (3) : 31

Manusia, yang dengan segala keterbatasan potensi dan kecenderungannya, memiliki jalan yang berbeda dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah, namun tidak satupun dari jalan itu, baik yang sederhana maupun yang mendekati sempurna, yang tidak mendapatkan tempat bagi CintaNya. Tidak ada yang menjadi sia-sia , jalan dan penyebab apapun yang menjadi awal mula seorang hamba mendekatiNya.

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
QS. al-Mu’minun (23) : 62

Ada dua jalan yang menghantarkan manusia kepada berdekatan kepadaNya, lahiriah dan bathiniah:

1) Lahiriah:
Terkadang, yang menjadi pintu awal seorang hamba mendekat adalah ketakutannya akan kemiskinan, rasa sakit, kehilangan atau sekedar gangguan manusia disekitanya, dikali lain sekedar harapannya dari dunia yang dengan sebelah mata diharapkan dapat melindungi, dan sampai batas lain dikarenakan kesedihan duka yang berkepanjangan yang menghantarkan seorang hamba berusaha berdekat-dekatan denganNya.

2) Bathiniah:
Namun tidak urung juga manusia yang mendekati Allah disebabkan kejernihan hati, keikhlasan yang hanya mengharap dekat tanpa didahului oleh apa yang ditakuti atau diharapkan dibelakangnya, hanya Allah semata dalam hatinya, dia ridho dengan apapun yang diperolehnya, dia hanya menikmati dalam ikhtiarnya yang tidak diberi batas, meski pada ujungnya tetaplah seorang hamba bergantung pada cintaNya Allah, sebaliknya Allah tidak bergantung dan berkebutuhan kepada keimanan maupun cinta hambaNya, manusialah yang tergantung dan terikat kepada kebutuhannya .

Dua kondisi dari proses spiritual manusia tersebut , keduanya diberi jalan oleh Allah, sebagaimana hati dan panca indra keduanya membutuhkan akal, dari yang awalanya lahir kemudian bathin, atau sebaliknya. Apapun prosesnya selama tidak menafikkan satu dengan yang lain dari potensi yang diberikan Allah untuk mengenal dan mendekat kepadaNya.

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,serta mendustakan pahala yang terbaik,maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. QS. al-Lail (92) : 4-10

Setiap kehendak dari seorang hamba untuk berpayah-payah mencari ridhonya, maka setiap kepayahan itu, akan menghantarkannya kepada kemudahan, dan terbukanya jalan-jalan yang semula berliku, menanjak menjadi mudah dilalui. Bagaikan kepayahan ketika turun hujan yang akhirnya hujan itu memberi kemakmuran bagi manusia. Apakah kepayahan itu?, ialah ikhtiar mencari ilmu dan kesabaran yang tetap dipelihara dalam melaksankan yang wajib maupun yang sunah, kepayahan dalam membersihkan hati dan menjaganya agar senantiasa dapat terhubung denganNya. Kepayahan dalam menafkahkan harta yag disukainya dijalan Allah, hingga tiada rezeki yang diperolehnya, melainkan mendatangkan kelapangan bagai orang-orang disekitarnya. Kepayahan dalam mengekang nafsu akan gemerlap dunia, hingga tidak dia memperjuangkan sesuatu dari dunia melainkan dia memanfaatkan bagi dirinya secukupnya saja, menahan diri dari berlebihan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
QS. al-Insyirah (94) :5-8

Allah mencintai makhluknya seperti Ketika dengan kehendakNya dia menurunkan hujan. Jika kita berpegang pada cintaNya Allah, maka tidak ada sesuatupun dari cintaNya yang perlu dikhawatirkan. Karena Dia-Allah akan menghadapi manusia dengan keadilan yang tidak ada sesuatupun dari apa yang disuhakan dan diniatkan dalam hati seorang hamba, akan luput dari perhitunganNya. Namun selalulah waspada bagaimanakah kita KepadaNya, karena Allah sesuai prasangka hambaNya, bagaimanakah prasangka hati seorang hamba kepadaNya, jika baik, maka baiklah hatinya, jika buruk maka buruklah hatinya. Hati adalah penggerak jika baik akan membawa kepada kebaikan , dan jika buruk maka pemilkinya akan senantiasa dalam keadaan tertipu.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Allah berfirman: Aku berada pada prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika ia berprasangka baik maka ia adalah untuk dirinya sendiri dan jika ia berburuk sangka terhadap diri-Ku maka itu adalah untuk dirinya sendiri”.

Maka apabila hati merasakan getar cinta kepadaNya, kenalilah Dia, ketahui apa yang dikehendakiNya , setelah itu ekspresikanlah cinta itu dengan tidak ada rasa khawatir akan luput dari pengamatanNya, akan berkurang kemaklumannya akan dosa dan kelalian hamba-hambaNya, karena ampunanNya melebihi murkaNya, selama kita senantiasa waspada dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri.

“Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda: ‘ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (H.R.al-Bukhâriy)

Wa Allah A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s