Cermin An nashr

Isyarat dari berita kemenangan itu akhirnya disampaikan, sebagai penyeka letih perjuangan agung seorang anak manusia yang dimuliakan di atas langit maupun di bumi. Lebih dari separuh hatinya ia persembahkan untuk sebuah perjuangan demi ummat yang dicintai, agar tiada satupun yang tercerai berai dari ketauhidan. Meski sebuah perjuangan manusia siapapun akan menemukan ujung dan batasnya, namuan perjuangannya tidaklah sebatas perjuangan seorang laki-laki pilihan, namun menjadi bukti kebesaran pemilik cahaya diatas cahaya.

Aku menangis membaca ayat demi ayat dalam surat ini, sederhana namun membuka kunci-kuci fitrahku sebagai seorang manusia yang sedang berusaha memahami banyak dimensi tentang sebuah agama besar bernama Islam, yang dikumandangkan sejak awal peradaban sebagai pembawa keselamatan. Syukurku,…karena Allah berkehendak menjadikan aku seorang muslim, berkesempatan mengenal lelaki pilihan itu meski hanya dari barisan ayat-ayat cintanya yang diabadikan, namun sosok dan semangatnya seolah bertatap muka denganku, begitu menembus sanubariku ,begitu menyentuh…hingga surat ini seolah membuat aku diliputi oleh kerinduan yang begitu asing karena memiliki sifat yang semula tidak aku kenali, dan seakan melambungkan anganku seandainya aku berada sangat dekat dalam rentang waktu kehidupannya.

Imam Ahmad Muslim, meriwayatkan bahwa istri nabi Muhammad saw, Aisya ra berkata: ” Pada akhir usia nabi saw, beliau sering membaca “subhana Allah wqa bihamdihi Astagfirullah wa Atuubu Ilaihi”, dan beliau bersabda bahwa: ” Tuhanku menyampaikan kepadaku bahwa aku akan melihat tanda pada umatku dan Dia memerintahkan kepadaku________bila melihatnya___________agar aku bertasbih dan beristigfar sesungguhnya Dia adalah Tawwaab. Kini aku telah melihatnya “. Lalu membaca surat ini.” (Muhammad Quraish shihab)

Bagiku, konteks surat ini, meski ditujukan untuk nabi Muhammad saw, namun saripati maknanya dapat dijadikan cermin juga bagi ummat islam yang berusaha mengikuti, meneruskan perjuangan , sesuai dengan batas kapasitas yang dapat di ikhtiarkannya.

Mempelajari, mengamalkan dan mengajarkan, sampai akhirnya apa yang diajarkan dengan kehendak Allah sebagai pertolongan akan perjuangan , yang karenaNya digerakan hati manusia untuk mengikuti dan mengamalkannya, merupakan sebuah kemenangan pula yang dapat dirasakan oleh ummat Muhammad saw. Sehingga tidak luput pula keharusan bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan atas kehendakNya seorang muslim dapat menjadi bagian sebuah bentuk perjuangan yang agung yaitu mengajak ummat manusia kembali kepada fitrah ketauhidannya.

Menjadi keniscayaan pula untuk beristigfar kepada Allah, karena boleh jadi ditengah perjuangan tersebut, sebagaimana layaknya hati manusia menyelusup kedalam hatinya kesombongan , karena merasa berada dijalan yang benar , riya karena menikmati pujian dari kekaguman manusia, berburuk sangka manakala ditemui kendala dalam perjuangan menegakkan amal maruf nahi mungkar, dengan bermuram durja karena ada sekelompok manusia yang mengingkari, menafikan dan itu sebagai tanda keikhlasan yang mulai terkikis oleh sifat manusia yang senang menerima pujian dan dielu-elukan hingga menjadi melemahlah semangatnya manakala justru ia mendapatkan perlakuan sebaliknya.

Hingga bagiku surat ini merupakan akhir dari batas apa yang bisa dan di ijinkan oleh Allah, untuk diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw, namun merupakan awal dan estapet bagi ummat muslim untuk meneruskan perjuangan sampai akhir jaman, sebagai bentuk ibadah yang nilainya tidak akan terputus.

Keagungan Tuhan dimuka bumi bahkan ribuan kali penciptaan setelah ini, memang tidak perlu dibela, namun kedudukan manusia dihadapan Allah perlulah diperjuangkan nilainya, meski pada akhirnya sebuah ketundukan, ketakwaan dan sampai pada derajat mencintai Allah adalah atas ijin dan karuniaNya yang tidak terhingga, disebabkan ikhtiar hambaNya yang tidak pernah berputus asa. Maka akan bertemulah awal dan akhirnya dalam satu muara, dalam satu jemaah, dalam satu barisan khafilah yaitu ummat manusia yang telah menemukan keutamaan pada fitrahnya sebagai hamba Allah.

Bandung S.Alfi arni …10:16 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s