Spiritual Dalam Realitas Sosial

index

indexTiada Tuhan selain Allah, Dia yang menciptakan, maha mendahului, Maha mengakhiri, sangat keras siksanya, namun diliputi sifat Rahmaan dan Rahimnya. Tiada yang meminta melainkan janji pengabulannya menurut takaran yang jadi kehendakNya. Tiada yang lemah melainkan dalam perlindunganNya dan tiada yang menganiaya melainkan dalam pengawasanNya. Demikianlah refleksi keyakinan seorang muslim yang mengikuti kenabian Muhammad saw dengan keteguhan. Namun dimanapun seorang muslim berada, ia hanya diminta sebagai pemberi peringatan dan penyampai kabar gembira. Islam adalah keselamatan, kepadanya kebaikan ilahiah menjadi sandaran petunjuk bagi seluruh makhluk yang menjadikan alquran dan sunnah sebagai pedoman.

Bagaimanakah seorang muslim yang diberi tugas sebagai pemberi peringatan, dalam interaksi sosial dengan realita beragam?, bagaimanakah ia mengkomunikasikan spiritualnya sebagai individu dan sebagai bagaian dari masyarakat yang majemuk dan komplek?, bagi penulis ini sangat kontekstual dan membuka banyak pintu interpretasi yang beragama pula. Karena ini tidak hanya sebatas bagaimana menegaskan dan menegakkan,namun bagaimana memposisikan Islam berikut spirituallitas pengikutnya sebagai bagian dari kepanjangan refleksi da’wah Nabi muhammad saw yang senantiasa menghormati hak-hak manusia yang Allah beri potensi berupa akal,hati dan indra.

Islam pada hakekatnya mengunci nilai-nilai mutlak sampai akhir jaman, namun dalam perkembangan peradaban manusia yang menghadapi konteks-konteks kemanusiaan yang semakin heroik, maka bagaimana nilai-nilai Islam mengkomunikasikan dirinya, yang didalam dirinya Islam memiliki keragaman pula, sangat diperlukan usaha perbaikan,pengembangan dalam efektifitas. Bukan untuk sampai pada hasil akhir karena keimanan seseorang berada dalam urusan Allah yang mengusai hati setiap hambaNya, namun demi menyempurnakan proses ikhtiar sebagai khalifah yang memelihara rasa aman bagi seluruh ummat manusia, sehingga tidak tercipta jarak antara nilai-nilai Islam dengan proses spiritualitas sosial maupun individu. Bagaikan sebuah tempat persinggahan yang tidak memilki pintu yang terkunci, dimana setiap orang dapat memasukinya, memutuskan untuk tetap tinggal atau pergi berdasarkan kehendak tulus, bukan karena rasa takut atau kebencian.

a) Refleksi Spiritual Antar Ummat Beragama

Kebenaran itu sendiri, ketika belum berpindah pada ruang interpretasi manusia, mulanya bersifat satu, tunggal, tidak bercabang. Namun ketika manusia dihadapkan kepada beragama konteks, maka satu kebenaran berubah menjadi beragam kebenaran____dianggap benar dan tidak lebih dari legalitas pembenaran. Tidak dilihat dari sifat Allah yang maha tahu, yang maha kuasa dan memegang kunci kebenaran mutlak,hakiki, meliputi ilmu yang dijadikan olehNya tampak ataupun dengan kehendakNya tersembunyi, namun diukur dari kapasitas manusia memahami beragam konteks oleh semua potensi yang ada pada dirinya yang relatif daya jangkaunya. Bagaikan keluasan langit yang ketinggiannya tanpa penyangga, apapun yang menjadi bagian dari strukturnya telah mutlak, wujudnya, susunanya, proses penciptaannya sampai penghancurannya. Namun manusia tetaplah memiliki keragaman dalam menangkap wujud, nilai dan maknanya, yang dibatasi oleh jarak pandangnya, jangkauan akalnya, sampai kepada emosi yang meliputi jiwanya, yang meskipun telah nyata bagi hatinya adakalanya manusia memilih untuk mengingkarinya.

Akal adalah salah satu potensi manusia yang merupakan tanda kebesaran penciptaan manusia, namun setiap individu memiliki keterbatasan dalam mengfungsikan akalnya terhadap setiap objek yang diamatinya, yang akan mempengaruhi ruang gerak tumbuh kembang spiritual fitrahnya.

Kebenaran dari sebuah pilihan keyakinan spiritual, ada yang dapat dicapai kapasitas manusia dalam menilainya, ada pula yang hanya Allah yang maha tahu akan setiap sisi yang nampak maupun yang tersembunyi dari hati manusia yang dapat mengukur dan menilai kebenaran dari apa yang diyakini hamba-hambaNya. Karena manusia adalah makhluk yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Disinilah seorang muslim perlu sikap yang membumi, mendekat pada konteks tidak hanya sekedar bergantung kaku terhadap teks-teks. Karena petunjuk dan hukum-hukumNya, selalu memberikan ruang bagi manusia untuk menggunakan akalnya, eksplorasinya manakala dihadapkan pada suatu permasalahan yang merupakan bagian dari ayat-ayatNya yang tidak tertulis.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS. al-Baqarah (2) : 256

Namun ketika kebenaran yang hakiki itu telah sampai dalam jangkauan akalnya yang dikehendaki Allah dan tidak pula ia dihadapkan pada konteks yang diluar batas kemanusiaannya untuk menemukan nilai kebenaran itu sendiri, kemudian dia malah mengingkarinya, maka berlakulah hukum Allah, atas semua hambanya yang telah diberi kepadanya banyak potensi untuk dapat memahami nilai-nilai dari sebuah kebenaran yang harus diyakininya dengan ketulusan hati dan kekokohan perjuangan dalam mempertahankannya.

“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati merekatidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengngkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” QS. al-Ahqaf (46) : 26

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”.QS. al-Ahqaf (46) : 7

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, dikataka kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar” Mereka menjawab: “Ya benar, demi Rabb kami”. Allah berfirman: “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar”.
QS. al-Ahqaf (46) : 34

Spiritual adalah fitrah manusia yang merupakan sifat alamiah akan kebutuhan kebergantungan kepada sesuatu yang absolute, ketika seseorang memeprtuhankan dan mempersekutukan selain Dia-Allah yang maha pencipta yang kepadanya berkumpul segala sifat kuasa, maka itu bukanlah spiritual, melainkan nafsu syaitan yang di kunci mati oleh angan-angan kosong dan kesombongan yang meliputinya, hingga terhalang dia dari kehendak pengakuan dan penghambaan kepada Allah Tuhan yang satu, Tuhan yang tunggal

Seorang Muslim dalam interaksi sosialnya, tetaplah terikat kewajibannya untuk menyatakan kebenaran yang hak, kebenaran spiritual yang bersandar kepada pemilik penciptaan kebenaran itu sendiri, namun dengan tidak mencederai nilai-nilai hak kemanusiaan, yang penghakimannya hanyalah Mutlak dalam kewenangan Allah semata, dengan tetaplah bersama amal ma’ruf nahi mungkar itu kita tetap menciptakan ruang bagi setiap individu untuk melewati proses alamiahnya, memfungsikan akal, hati nurani dan panca indranya tampa harus merasa terancam, yang pada akhirnya akan semakin menumbuhkan tidak hanya pengingkaran terhadap nilai kebenaran hakiki namun kebencian terhadap Islam yang semakin dikunci mati oleh kesombongan mereka, karena mempertuhankan hawa nafsu dan angan-anagan kosong belaka

Dan Katakanlah:” Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir “. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
QS. al-Kahfi (18) : 29

Dalam berinteraksi sosial antar sesama ummat beragama cukuplah kita menjadikan strategi komunikasi yang secara tersirat digambarkan oleh Allah dalam ayat-ayat pilihannya

Katakanlah: “Wahai orang-orang kafir,
QS. al-Kafirun (109) : 1

Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.
QS. al-Kafirun (109) : 2

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
QS. al-Kafirun (109) : 3

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
QS. al-Kafirun (109) : 4

dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
QS. al-Kafirun (109) : 5

Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
QS. al-Kafirun (109) : 6

Dinyatakan, tegas, namun tetaplah mengedepankan akhlakul karimah, kerendahan hati. Islam tidak menghancurkan namun menumbuhkan, mempersatukan yang terserak, tidak menebar dendam, melainkan cinta kasih. pengayom tidak hanya bagi yang muslim, namun penunjuk arah bagi mereka yang kafir sekalipun.

Ketika kebenaran yg telah diketahui oleh hati dan di benarkan oleh akalnya, namun nafsunya mengingkari dengan nyata dan menciptakan makar diantara ummat manusia, maka , maka berlakupulalah hujah Allah untuk memerangi mereka berdasarkan bagiaman mereka memerangi, senjata dibalas senjata, ekonomi dihadapi dengan kekuatan ekonomi pula, pemikiran dihadapi dengan kekuatan fikir pula, dan persatuan ummat Islam adalah sebaik-baik kekohan yang tidak akan bias mereka ceraikan.

Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
QS. at-Taubah (9) : 73

b) Refleksi Spiritual Antar Sesama Ummat Islam

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
QS. al-Baqarah (2) : 255

Sepanjang sesuatu itu masuk kedalam ruang khilafiyah, yang seringkali merupakan buah dari proses keragaman interpretasi, yang sangat mungkin dalam perjalanan sejarahnya tidak dapat terlepas dari unsur subjektif dan banyak kepentingan. Maka tidak seorangpun atau suatu kelompok, golongan manapun yang nilai akhlakul karimahnya diberi kepantasan untuk menghakimi, apa lagi memaksakan kebenaran berdasarkan keyakinannya semata, sepanjang aplikasi dari keyakinan seseorang atau kelompok, tidak mencederai interaksi sosial yang telah dipindahkan kepada ranah nilai hukum positip yang merupakan hasil dari usaha dalam proses menegakan kebenaran, yang telah diusahakan bersama sedekat mungkin dengan semua kepentingan perindividu dalam terpenuhinya hak atas apa yang dianggapnya benar dan diyakininya.

Kebenaran Spiritual dasarnya adalah satu dan mutlak, sebagaimana Allah nyatakan berikut:

Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
QS. al-Ahqaf (46) : 13

Bertemulah batas yang menjadi dasar suatu keyakinan spiritual, termasuk segalahal yang bersifat khilafiyah dalam perkembangan penafsiran terhadap teks yang menjadi landasan utama dalam perjalannya yaitu Tiada tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dan menjadikan ayat-yata yang muhkamat sebagai petunjuk mutlak dalam menjalankan dan mengekspresikan penghambaan seorang muslim kepada Allah, dan menyiapkan diri untuk tidak pernah berhenti dan merasa cukup menyempurnakan pemahamannya terhadap ayat-ayat muhtasyabihat, yang memberikan ruang kepada ummat islam untuk saling bertanya dan melengkapi, bukan malah menuhankan apa yang diyakini batas akalnya semata, menjadikannya ujung tombak penghakiman terhadap sesama muslim yang samalah setiap pergantian waktunya merekapun memenuhi seruan Allah, sujud dalam kerendahan hati, dan kepsarahan akan segala kelemahan dan alpanya.

Naiflah kita semua jika tetap menjadikan budaya penghakiman terus berkelanjutan hingga menyebabkan ummat Islam didunia tidak lagi dapat bergerak maju dalam perkembangan peradabannya, karena terus membiarkan diri terkungkung eksklusifisme yang menjadi sekat tebal antara umat satu dengan yang lainnya. Sedangkan Allah-pun telah pula memberi batasan dan ruang bagi kita semua.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur�an ? Kalau kiranya Al-Qur�an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” [An-Nisa� : 82]

Telah cukup menyedihkan jika antara sesama muslim, telah saling menutup pintu untuk berusaha saling mendengarkan dan memahami antara satu dan yang lainnya, dan semakin memilukan jika terputus ikatan kasih sayang diantara sesama hamba Allah yang kepadaNya kita semua sama menyerahkan kelemahan diri, hanya karena kita “Mempertuhankan keyakinan kita”…

Tidakkah kita rindu dan berharap, menjadi bagian dari mereka yang Allah gambarkan dalam barisan ayatNya…

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
QS. al-Ahqaf (46) : 14

Ummat Islam adalah ummat yang satu, yang menjadi terikat dalam ikatan kokoh, ketika hati dan perbuatannya menegakkan sebuah pengakuan dan janji penghambaan yang tidak akan terputus sampai ruh beranjak dari persemayamannya sementara, bahkan sampai pada kehidupan abadinya,yaitu Tiada Tuhan selain Allah yang dalam genggamannya segala sesuatu yang menciptakan dan mematikan yang memberikan rahmat kepada seluruh ummat manusia dan rahiimnya yang tiada akan terputus bagi hambanya yang dengan ketaatan mengikuti Rasulnya Muhammad saw.

Islam, bagaikan pohon yang memiliki akar serabut, meski akarnya bercabang cabang, ia menyerap saripati yang sama, hingga dari akar serabut itu tumbuh pohon yang tunggal, memiliki daun yang lebat yang memberikan keteduhan, menghasilkan buah yang ranum…, yang menjadikan hilang lapar dan dahaga, dihiasi bunga yang menebar semerbak. keindahan dan manfaatnya, menjadikan siapapun ingin berteduh di bawahnya.

Keragaman interpretasi didalamnya, bukanlah sebuah keterpisahan. namun bibit kesempurnaan dan kelengkapan, jika disikapi dengan kerendahan hati dan kebersamaan, bagaikan satu tubuh yang akan terhentak, jika salah satu bagiannya terluka. Kekuatan Islam bukan pada mu’jijat alqur’an dan para nabinya. Namun pada persatuan umatnya.

Islam, tidak bersembunyi dibalik mesjid-mesjid megah, tidak berkerumun membolak balik Alqur’an, tidak berbaris rapih dalam warna yang sama. tidak hanya mencari keteduhan diseminar-seminar, tidak hanya berasyik mansuk diharokah-harokah eksklusifitas. Islam tidak sibuk berbaku hantam antara “pemahan dan aliran”. Islam bukan penonton dan pemberi nilai, bagi orang-orang yang melaut dalam dosa dan kesesatan…

Islam tidak sebatas genangan air telaga, namun Ia bagaikan turunnya hujan yang menyebarkan rahmat dan hikmah yang berbeda bagi setiap orang…kita tidak akan memahami islam yg telah terinterpretasikan dalam setiap peradabannya, hanya dari satu arah mata angin.

Mendekatkan diri kepada Allah, bukan berarti kita mengabaikan sisi manusiawi kita apalagi orang lain. Islam ada untuk memanusiakan manusia, dan setiap individu memiliki prosesnya, jadi hargailah itu. jangan abaikan proses seseorang, hanya karena keegoisan spiritualitas kita, berhentilah memperkenalkan Islam dengan kebencian dan keakuan, dan kenalilah Islam dari berbagai sudut pandang, sebelum kita menyimpulkan.

Maka jangan putuskan ikatan kokoh itu, dengan terus saling mengingatkan, bertanya, saling melengkapi kepahaman dengan kerendahan hati

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? ” QS. al-Kahfi (18) : 68,
Maka berjalanlah dimuka bumi, bertanya dan pelajarilah, sesungguhnya apa yg dikehendaki oleh Allah jadi, terkandung ilmu didalamnYA,dan berakhlakul karimahlah didalam prosesnya, jangan merasa cukup. wa Allah A’lam

Bandung,……Alfi Arni Makhtaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s