Cinta, Ekspresi dan Sifat Tuhan

Cinta, awal segala kejadian, kehendak, kekuasaan, dan keberadaan. Dan cinta akan menjadi akhir segala yang pernah ada , ujung perjalanan yang dikira oleh banyak hati merupakan ujung yang takpernah bisa dipahami akal, namun bagiku ujung itu bagian dari segala akal, kunci dari semua pintu, jawaban dari semua yang pada awalnya Allah biarkan bisu.

Siapapun, dengan bahasa apapun, dengan ketinggian fikir, ketinggian pemahaman pada setiap makna yang samar maupun tersembunyi, cinta tidak akan pernah bisa diurai dengan bahasa utuh, sempurna, lengkap, menyentuh setiap dimensinya, kerena cinta adalah sifat Tuhan yang cuma sejengkal bayi dibiarkan mmenyentuh dan menjadi bagian kehidupan manusia, bagaimanapun peran, dan kemampuan masing-masing dari mereka yang bisa merasakannya. Maka darimanapun dimulai sebuah kata untuk dirangkai menjadi sebuah gabaran cinta, maka setiap individu akan memiliki rasa yang berbeda, meskipun pada akhirnya cinta bermuara pada akhir yang sama, sifat Tuhan, dan manusia ketika menumbuhkan, merasakan sampai kepada mengekspresikan tetap pula pada nilai yang sama, yaitu keterbatasan.

Allah, memperkenalkan dimensi cintaNya, dengan cara yang bergitu heroik. CintaNya terkadang dibahasakan dalam rangkaian teks yang siapapun menbacanya, akan mendapatkan nuansa rasa yang berbeda, meski ketajaman tafsir para ulama mencoba mengurai berbagai makna yang tersembunyi, namun rangkaian kataNya tetaplah bersifat personal, hanya dalam satu ikatan antara seorang hamba langsung denganNya. Itu baru sebatas rangkaian teks-teks yang bersatu antara hurup mati dan hurup hidup. ketika hati, rasa, akal dan panca indra beralih pada pentas-pentas kehidupan manusia, maka sungguh cinta Allah dibahasakan lebih dari sekedar pengertian dan ekspresi cinta yang bisa dikuasai manusia.

Allah, mengekspresikan cintaNya, dengan keseimbangan yang lepas dari tolok ukur nilai akal manusia. Kehancuran, bencana, penderitaan, rasa sakit, kehilangan, kebencian antar sesama manusia disepanjang peradaban, lengkap dengan kengerian yang bisa menciptakan ketakutan,kebencian, dendam, kesombongan, kelemahan, semua intrik yang bisa menciptakan gejolak jiwa yang kian melaut dalam permainan takdir yang bagiku sangat terikat dengan nuansa seni peran yang tinggi.

Selain itu bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang memiliki daya tarik berbeda, bahasa cintaNya diciptakan dan dilahirkan dalam intrik kehidupan yang saling centang perenang dengan gelap dan terang. Keindahan, kemegahan, keragaman, kekuasaan, peran yang saling menguatkan, perubahan disetiap peradaban manusia yang membawa pada terciptanya apa yang bisa diwakilkan kepada manusia, untuk dirasakan, dimiliki dan dijadikan pegangan dalam kehidupan sosial manusia.

Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.QS. ar-Ra’d (13) : 12
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
QS. Ibrahim (14) : 34

Maka bahasa dan ekspresi cinta Tuhan dipadukan antara apa yang ditakuti manusia dengan apa yang disukainya, cinta Tuhan bukan bahasa rayuan, menawarkan hayalan yang muluk, bukan pameran kekuasaanNya yang dikira hanya dapat menarik hati manusia atas kesadaran kelemahannya sebagai apa yang diciptakan dengan Tuhan yang maha menciptakan. Di suatu saat, seorang hamba akan dihadapkan pada kemuliaan dan kebahagiana dikali lain ia akan diseret dengan suka atau tidak suka pada kehidupan yang akan ditakutinya sepanjang kehidupan.

Hanya kepada Allahlah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. QS. ar-Ra’d (13) : 15

Jangan mencoba menilai bedanya, karena begitulah cara Allah mengekspresikan cintanya, kerena bukan hanya sebatas bagaimana cintaNya dikenali manusia, namun bagaimana manusia bisa melewati proses untuk sampai bisa tunduk sujud dan mencintaiNYA pula, hingga pada akhirnya bagaimanapun Tuhan membahasakan cintaNya, seorang manusia yang telah sampai pada tingkat mengenal caraNya, akan bisa menemukan intinya, betapun ia merasakannya berbeda yaitu dengan penderitaan maupun kebahagiaan.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
QS. Ibrahim (14) : 7

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
QS. Ibrahim (14) : 5

Bagaimanakah, seorang hamba membahasakan dan mengekspresikan cinta, yang merupakan bagian dari sifat ruh Tuhan yang telah dihembuskan pada awal penciptaannya?, maka kenalilah sifat cinta, cinta, suka meniru, berusaha menjadi bagiannya. Cintailah apa yang baik dari sesuatu,maka akan bertambah kebaikan dalam diri. Pahamilah apa yg dicintai, maka pemahaman itu akan menambah ilmu. Cinta sifat Tuhan, dia tidak merusak, berasal dari hati, maka akan bermuara pada hati pula. Cinta bukan hanya sebatas bahasa rayuan, untaian kata yang dibuat berangkai tampak ujung dan jauh dari sifat subjek yang dicintai, cinta adalah kekaguman sekaligus penerimaan dari nilai baik atau buruk yang telah menjadi satu paket dari keberadan sesuatu atau apapun yang menjadi subjek cinta itu tumbuh. Maka kunci dari nilai sebuah cinta, adalah pengenalan dan penerimaan yang utuh, awalnya dalah akhlakul karimah dan akhirnya dalah ketulusan. Dan berakhlakul karimahlah pada apapun kesempitan yang dihadirkan Allah, sebagaimana kita sambut kebahagian dan kelapangan dengan sepenuh hati, berakhlakul karimah pada apa yang tidak kita sukai dari sesuatu, sebagaimana kita menggumi apa yang menjadi kebaikan didalamnya.

Apapun yang kita cintai, kenali sifatnya dengan utuh, dan jadikan bernilai ibadah. Terpenuhi atau tidak hasrat dari cinta yang yang telah ditumbuhkan oleh akal, panca indra, hati dan nafsu,dekatkan cinta itu dengan ketulusan dan akhlakul karimah. Jika sudah sampai pada tingkatan demikian, maka tidak ada batasan waktu, keterkabulan, dan harapan dari apa yang kita rasakan, kerena kehendak Allah dan ekspresi cintaNya kepada siapapun hambanNya, tidak hanya pada penciptaan pertama. Maka Allah-lah sebaik-baik pemiliki kesempurnan cinta, dan sebaik-baik pemilik keseimbangan dalam mengekspresikan cintaNya.

Bandung, S. alfi arni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s