Wajah Berlipat 13

20760_1188787767880_5581082_nKereta buatan tahun 70-an, berhenti disebuah stasion kota. Kereta itu tampak kumuh, cat warna oranye dengan strip warna merah bata terlihat telah memudar terbakar terik matahari, terkadang siraman air hujan tampak ampun membuat kereta itu juga berkarat. Itu baru sekilas mata memandang, gambaran sebenarnya nampak jelas ketika wajah-wajah berlipat sudah mulai berdesakan didalam setiap gerbong yang saling mengait, membawa ratusan penumpang keberbagai tempat tujuan.

Tidak hanya kumuh, namun dalam kereta kemiskinan tergambar dengan lengkap dari berbagai dimensinya. Untuk mengetahuai gambaran kesenjangan,Tidak perlu keliling daerah,masuk kedalam pelosok-pelosok sudut-sudut kota, cukup berdesakan dalam kereta itu, kita sudah langsung menangkap gambaran lengkapnya.

Pedagang tahu goreng,kerupuk,buras, jeruk, apel,jambu hasil panen yang jika dijual di supermarkey tidak akan laku terjual karena kualitasnya, tidak hanya itu berbagai perlengkapan rumah tangga dari mulai sendok sampai pengorek kuping, aksesoris dari mulai ikat rambut sampai kaca mata hitam ala bintang Hollywood, yang ditata dalam sebuah kardus terbuka, ember besar bekas cat bangunan, di jajakan dengan di dorong, terkadang di tenteng, berseliweran disepanjang gerbong kereta. Tidak hanya para wanita terkadang wajah-wajah lugu ikut memanggul dagangan yang mungkin keuntungannya tidak lebih dari duapuluh ribu rupiah sehari. Mereka berteriak menjajakan barangnya dengan bahasa yang terkadang nyaris keluar dari etika, tidak ayal caci maki melengkapi rayuan mereka jika penumpang Cuma bisa menggelengkan kepala. Para pedagang kelas gerbong itu berjalan berdesakan menyusuri sepanjang gerbong kereta dari ujung keujung. Sementara para penumpang yang berjejal dalam posisi berdiri, wajib memberi jalan pada rombongan khafilah itu.

Wajah lain kekumuhan, terlihat juga dari rombongan para pengamen jalanan, ada yang Cuma bermodalkan tepukan tangan dengan suara menghawatirkan, yang membawa radio kaset lengkap dengan pengeras suara untuk menyamarkan teriakan lantang agar terdengar sendu mendayu ikut jadi akal-akalan mereka. Ada yang lebih top, bisa dikatakan selebritisnya gerbong kereta, mereka bermodalkan perlengkapan musik dari mulai gitar komprengan, kendang yang dibuat dari bekas galon air, sampai kecrekan yang dibuat dari tutup botol yang disusun sehingga menghasilkan suara lumayan mengusik telinga, mereka menyanyikan lagu-lagu anak-anak muda yang sedang top ditayangkan di setiap stasion tv. Suara mereka lumbayan menghibur para penumpang yang terlihat kusut masai menahan udara pengap dengan berbagai aroma dari mulai asap rokok sampai bau keringat berbagai aroma asam, hampir bersaing dengan bau kemenyan. Mereka terus bernyanyi dari mulai pengamen yang menyanyikan lagu-lagu dangdut, lagu barat yang terdengar sekenanya, sampai lagu daerah, mereka bertukar suara dengan pengamen lain dari ujung keujung gerbong kereta,sambil sesekali menyodorkan sebuah kantung plastic bekas bungkus peremen kearah penumpang, minta di isi dengan keping atau lembar uang recehan. Wajah mereka telah hilang malu dan menyembunyikan letih yang panjang, berganti rupa dengan senyum, terkadang teriakan lantang setengan memaksa agar beberapa penumpang mau menyodorkan uang recehannya. Sepanjang perjalanan, para pengamen it terus bernyanyi, baru berhenti ketika kereta sampai kesebuah stasiun pemberhentian sementara, mereka bernyanyi lagi dan lagi sambil berdesakan dengan para penumpang yang terus bertambah.

Disela-sela perjuangan para pengamen dan pedagang asongan, tidak luput dari arena percaturan kemiskinan itu, mereka yang hanya berjalan dari ujung keujung gerbang dengan hanya menadahkan tangan, bersaing peran mulai dari laki-laki perkasa dengan para ibu yang mengapit bayi, dan ada juga yang menuntun anak kecil usia sekolah. Mereka terlihat seperti sedang bermain peran kemiskinan, karena tubuh mereka terlihat segar bugar yang menunjukan mengemis Cuma sebuah pilihan dari sekian bentuk perjuangan.

Meski demikian banyak juga para pengemis yang memang benar-benar lakon yang harus mereka jalanin sambil menekuk habis kesedihan dan rasa malu sampai kedasar hati. Miris, salah satunya seorang kake yang buta dengan tubuh kumal dan kaki tak bersandal, tangannya mencengkram gemetar tongkat yang dengan susah paya menyangga tubuhnya yang renta, dia berjalan mencoba menembus desakan penumpang, sambil melantunkan ayat-ayat suci alqur’an dengan tazwid sempurna, sesekali tangannya yang gemetar mencoba menadah berharap ada sekeping rupiah yang diselipkan oleh para penumpang, yang terkadang hanya melirik tanpa terusik. Ada juga sepasang suami istri yang melengkapi gambaran duka dalam gerbong kerta, istrinya yang tinggi tubuhnya seusia anak sekolah dasar dengan kaki-kaki yang mengecil digendong sambil sibuk menunjukan arah jalan pada suaminya yang bertubuh kekar namun dengan pandangan yang telah gelap, merangsek masuk mencoba mengurai desakan para penumpang, sambil berkata hampir lirih “buat makan neng….,buat makan pak…”.

Bukan Cuma mereka yang mengemis-ngemis. Nenek tua renta dengan wajah pucat pasi, anak –anak laki-laki dan perempuan yang nyaris seluruh tubuhnya penuh dengan kotoran yang sudah menebal dan mongering, lengkap dengan jari-jari kaki dan tangan penuh dengan kotoran, kuku-kuku tangan dan kaki yang panjang menyembunyikan lumpur disela-selanya, dengan sinar mata redup ikut melengkapi dan memenuhi kuota kesengsaraan yang seringkali gagal menyentuh hati-hati yang terlanjur menghitam melebihi hitam pekatnya tubuh-tubuh mungil itu.

Tidak hanya satu arah kemiskinan, para pedagang sayur yang hendak menjula hasil panenya kepasa ikut memadati tumpukan manusia, dari mulai ubi talasa, jagung , kekarung pete, sampai pisang, berkarung-karung diangkut oleh pundak-pundak tangguh yang seringkali diantara mereka tidak lagi berusia muda. kake dan nenek tua yang ringkih ikut bertukar keringat menjemput rizki yang entah berapa. Ada juga yang menarik masuk kambing, menenteng keranjang dari rotan tempat ayam-ayam yang telah di ikat kakinya dijejalkan kedalam keranjang, yang ikut menambah aroma semerbak dalam kereta. Perjuangan meraka berhimpitan dengan para pegawai pabrik, anak-anak sekolah dan juga orang-orang yang sekedar ikut berjejal demi mengurangi ongkos perjalanan, yang jika naik angkot terasa lebih memberatkan.

Sepanjang perjalanan, berbagai episode hidup diceritakan dengan sesama penumpang yang kebetulan berdekatan, dari mulai cerita uang ongkos sekolah yang terasa mencekik mereka, curahan hati para pedagang yang kebingungan bagaimana meraih untung lebih banyak, sampai kisah penjual kambing yang terpaksa menjul sepasang kambing peliharaannya yang tak juga beranak pinak. Mereka saling berbagi kesedihan, bertukar nasehat dengan bahasa ala ulama-ulama diperkotaan, namun dikali lain terdengar begitu naif.

Mulai senja, gerbong-gerbong kereta tidak lagi berdesakan, kursi panjang yang diletakkan disamping kiri dan kanan sepanjang gerbong, tidak lagi dipenuhi penumpang. Kehidupan malam mulai menampakkan taringnya, lakon hidup manusia mulai berganti pentas. Sepasang anak muda duduk disudut-sudut kereta, tangan mereka berangkulan menyelusup kesetiap sela birahi, bisik-bisik manja melengkapi pembicaraan mereka yang kian menuai dosa. Tidak hanya itu anak-anak remaja yang baru pulang sekolah ikut-ikutan memamerkan nilai-nilai moral yang terlihat mulai setipis kulit ari. Caci maki, terikan kotor, kepulan asap roko, membuat penumpang lain yang merasa risi memalingkan pandangan, yang kemanapun mereka berpaling adegan sama tetap terlihat.

Sejurus mata memandang, seorang anak jalanan yang tampak letih dan lapar menyelonjorkan kakinya dekat pintu keluar, tangannya yang kotor sibuk menghitung uang recehan hasil mengamen yang ia mesukan kedalam kantong plastic bekas peremen, selesai menghitung uang anak itu mulai membuka bungkus nasi yang lauknya hanya sepotong tempe berukuran kecil ditambah kerupuk goreng, dengan lahap anak itu makan nasi hasil jerih payahnya menjual wajah memelas. Pemandangan sama, ditunjukan oleh para pengamen, pedangang asongan sampai para tukang sapu, yang sering kali membuang sampah-sampah gerbong keluar kerta, menebar sampah disepanjang rel yang dilalui. Mereka sibuk menghitung uang recehan dengan wajah sumringah, menyembunyikan hara-harap cemas tentang esok hari yang mungkin tidak lagi membawa keberuntungan yang sama.

Wajah-wajah berlipat 13, melukiskan kesedihan, ketakutan, kelaparan, kebencian, rasa sakit, menyembunyikan rasa malu, menepis habis apa yang bernama harga diri, yang terkadang berganti warna, dengan harapan, tawa riang, dan celoteh-celoteh lugu, namun dikali lain celoteh mereka tentang hidup mengingatkan aku pada banyak buku yang kubaca atau nasehat-nasehat para ulama yang sering kudapati berdiri dibelakang mimbar. “gila…hari ini perut gua kenyang…..teriak seorang pengamen dengan wajah girang dan menahan kantuk, masih mending kita sobat, kita kenyang dari hasil ngamen,…..orang-orang gedongan, yang sekolahnya tinggi banyak yang kenyang dari hasil korupsi, menggondol uang rakyat, katanya sih….celoteh temannya menimpali, tidak cukup itu, seorang laki-laki setengah baya berkata sambil memutar-mutar batang rokok yang tidak juga di isapnya, dengan sinar mata menerawang ” salila urang dibere hirup, pasti gusti Allah mere rezekina, asal urang daek weh narekahan nana, anu penting urang menang duit halal jeug bisa sare tibra” (selama kita diberi hidup, pasti Allah memberi kita rezeki, asal kita mau mengikhtiarkannya, yang penting kita memperoleh uang halal dan bisa tidur nyenyak) demikian nasehat sederhananya. Dan benakku lebih banyak lagi berceloteh.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s