Ditampakkan dari yang tersembunyi

Semakin kita melihat keluar diri kita, semakin jauh dan semakin nyata apa yang selain diri kita, maka semakin tersamar warna-warana yang sebenarnya cukup tegas tergambar dalam jiwa kita.

Setan menyelinap tidak hanya dari kiri, dimana nilai buruknya begitu nyata untuk dihindari oleh pengawasan hati, akal, dan panca indra. Syetan menyelinap pula dari arah kanan (mengatas namakan kebaikan). Dia bertopeng sujud-sujud malam, tersamar oleh bisikan ayat-ayat yang seolah menggugah ke imanan padahal sebatas hanyut. Bisikan halusnya tidak terdengar, terkalahkan oleh dzikir yang kian nyaring, menghakimi tubuh-tubuh yang meringkuk lelap.

Dikali lain, ketika kita semakin tajam menempatkan dan memberi nilai setiap gerak manusia, maka semakin tumpul pula hati mengurai kesadaran akan nilai diri sendiri. Sedekah, pakaian yang mencoba menampilkan simbol ketaqwaan semu, dan kata demi kata yang meluncur bagaikan titah Tuhan. Disanalah syetan bersembunyi , diam, menyelusup kedalam hati, memapah kesombongan yang rasanya dibuat seolah hanya sebuah ketentraman bahwa diri telah sampai pada nilai maqam yang mulia. Hati berjingkat jinjt, meraih mahkota sebelum disematkan oleh Dia-Allah yang Maha mengawasi apa yang tersembunyi.

Tibalah masa, segalanya harus di uji, bukan untuk membuktikan kehadapan Allah yang maha tahu, namun untuk menampakkan nilai jiwa pada pemilikinya, mendudukan apa yang nampak sesuai nilainya di mata Allah, melahirkan apa yang tersembunyi agar jelas penampakkannya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. at-Taubah (9) : 16

Digelisahkan jiwa dari kebanggaannya,di usik hawa nafsu yang sekian lama terasa seolah bermental nabi, maka berdalih membela harga diri, tegaklah kaki yang semula tertekuk, tak dinyana lisan yang semula santun dihiasi dzikir dan sabda -sabda Tuhan, berubah terikan lantang, caci maki yang mengatas namakan kebenaran, menuntut hak dengan membelakangi nilai dari peran orang lain. Semua orang terhakimi, semua peran dikecilkan. Setelah tampak apa yang tersembunyi, maka keluarlah syetan dari hati manusia, menjauh, untuk merayakan kemenangan demi akan bertambah klannya dan dan mengatur tipuan berikutnya, mengintai dari berbagai sudut-sudut kemanusiaan.

Telah reda, telah sampai pada akhirnya, hati telah dipaksa untuk bercermin, untuk menampakkan wujud asli pada pemiliknya sendiri, dan telah sampai pula ujian Allah pada magsudNya. Runtuhlah kebaggaan, dan terusiklah hati dari rasa aman.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.
QS. Ali Imran (3) : 142

1 Comment

  1. Hamba Allah Swt (manusia) sesama kadang saling berinteraksi satu sama lain, baik dlm kebajikkan maupun kejelekkan dri segala sudut pandang masing2 dlm kncah kehidupan dunia, nmun mereka terlena dri hal tersembunyi d dlm diri masing2…., hawa nafsu, krna sadar/tdak apa yg diperbuat diri buruk/baik .., hasilny kmbali pada diri juga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s