Sekat-Sekat Spiritual

Aku berhenti dan tertegun, di Qur’an Surat Asy syura ayat 13.
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”

Agama…sebagian dari akal, sebagian dari panca indra dan sebagaian dari pekerjaan hati…demikianlah alqur’an membawa manusia untuk merenungkan banyak hal, semua yang bertebaran dimuka bumi, dilangit dan apa yang ada diantara keduanya, semua hal yang dapat ditangkap panca indra manusia dan dapat dijangkau oleh akalnya, dan dapat dirasakan dan dihayati oleh hatinya, di tunjukan satu persatu, dengan bahasa yang sederhana runut, tahap demi tahap, dibahasakan melalui budaya dan peradaban yang terus bergerak. Yang dengan kehendakNya, Ia biarkan manuisa sendiri yang berperan.

Secara teks hanya hitungan waktu, telah selesai, namun penjabarannya terus berpentas melalui bahasa-bahasa alama, dan hiruk piku percaturan kehidupan manusia, yang terkadang melompati batas hak-hak berbuatnya. Manusia yang satu menguatkan klan-klan yang lain malah mengurai kembali. banyak ragam di pertontonkan dengan satu pesan “berjalanlah di muka bumi lihat bagaimana akibat orang-orang berdosa”, lihat tidak kah kamu berfikir, lihat tidaka kah kamu memahami…(baca “ayat-ayat berpentas”, oleh penulis sebelumnya”)

Tidak cukup disitu, setiap jiwa membawa lakonnya sendiri, memerankan permainan yang terkadang terus berganti dalam hitungan waktu, terkadang diarahkan bagaikan kuda yang terikat mengikuti kehendak tuannya, namun dikali lain lakon itu tanpa bisa ditawar, menyeret masuk pelakunya keatas pentas, bersaing mansyuk dengan pelaku=pelaku lain yang siap berbenturan dengan keinginan yang terkadang cuma sampai menggigit bibir berhadapan dengan kekuasaan yang ponggah. semua itu dihadapkan pada setiap manusia demi menjentik akalnya yang terkadang seolah tertidur, menggiring pada sebuah nilai kebenaran yang sebetulnya terlalu sederhana untuk harus dipertimbangkan. Manusialah yang dengan pekerjaan akalnya menjadikan bahasa Tuhan yang sudah sederhana dan gamblang dibuat rumit hampir menjadikan bias apa yang sudat nyata, dan menghilangkan apa yang awalnya sudah diadakan.

Bukan akal yang bekerja tanpa mampu menemukan nilai kebenaran, bukan juga indra yang tersamarkan hingga apa yang begitu nyata terlihat seolah tipuan, atau bukan juga hati yang tiba-tiba bagai pisau tumpul tak bisa menguarai pesan Tuhan yang berpentas dialam dan terpapar abadi dan terpelihara dalam alqur’an. Atau bukan juga waktu yang kurang, sehingga tak ada jejak peradaban yang pernah dihancurkan atau dibiarkan megah luput dari catatan sejarah, bukti Allah memancangkan ribuan kehendakNya untuk membawa fitrah manusia ke asal muasalnya. Tapi kesombongan yang mengunci mati bekerjanya akal dan panca indra, serta bergetarnya hati sesuai pensifatannya, sehingga cahaya yang benderang itu, tetap redup penampakannya.

Jika-pun kesombongan itu luluh, maka tetaplah gulita disebabkan cinta dunia yang begitu rupa, hingga tak mampu tegak lutut yang telah tekuk, takmampu lepas hati dari hasyrat yang terlanjur dipikat birahi. Jika demikian apalah cara yang bisa mensapihnya, sepercik air wudlu tak akan juga bisa membuat nafsu sujud, hingga cinta itu terus melaut didalam hati, membudaya dalam setiap pergantian abad. Lihatlah nikmat dunia itu sama sifatnya namun terus berubah gerak dan rupanya, hingga semakin tertutuplah hati dari fitrahnya, hingga berlakulah kehendakNya, dibiarkan sesat dan menyesatkan siapa yang berada dibarisan yang sama.

Manusia pula, yang menciptakan sekat-sekat tak tembus cahaya, mengapa harus mencaci maki Tuhan yang diam seribu bahasa, dan menggantinya dengan tipuan dari batu sampai tokoh-tokoh jaman yang diseting kemudian dituhankan. Tuhan tidak perlu dibela untuk mengumpulkan hamba-hambanya masuk dalam lingkaran yang sama, karena sejak semula Allah tidak memaksakan satu kehendaknya, namun selalu Dia menghadapakan manusia pada pilihan diantara kehendak-kehendaknya. Tak perlu berbaris memaksakan dan menyeret siapa yang ingkar, menghakimi dan menistakan dan menghadap-kan mereka dibawah ancaman kematian. Sekat-sekat dihati mereka tidak akan tembus oleh idiologi yang dipaksakan dengan ribuan keponggahan teori kebenaran yang justru telah dilepaskan, dari sifat Tuhan yang membahsakan dirinya dengan bahasa yang sederhana.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir,maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” QS. Al Ghasyiyah :21-26

Ada bagian yang tidak terukur oleh manusia sedalam apapun ia menafsirkan kata dan sirat wajah mereka yang dikira nalar manusia adalah pendosa. Tidak selalu yang terlihat dan dipahami akal, demikian pula tanpaknya. Setiap jiwa mempunyai waktunya, menghadapi batasannya, dan mengenali jalannya. Dan ditanganNya setiap jiwa memegang kunci-kunci bahasa yang bisa dipahaminya, yang dengan sendirinya sekat itu akan menipis atau menebal. Kita hanya pemegang wasiat, penerus, itupun masih terpincang dari kepahaman yang sebenarnya. Dari itu Tegaknya Agama tidak harus dipaksakan. Mungkin bentuk dan jalan yang berbada, kita hanya perlu menjaga agar sifatnya sama, karena peradaban tidak berpijak dalam intelektual yang sama, meskipun asal muasalnya tetaplah takberubah.

Tapi bukanlah, berarti mengharapkan malam sebelum senja, bukan pula berjalan akan mengalahkan yang berlari, tidak pula pagi akan mendahului siang, apalah lagi bukan diam akan lebih utama dari pada berusaha menyampaikan, apatis apa lagi leberalis. Namun bagaimana menyampaikan sama pentingnya dengan apa yang harus disampaikan.

S.Alfi Arni

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s