Ayat-Ayat Berpentas

mural

mural“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (QS. 3:137)”

seorang wanita, paruh baya, duduk diatas batu karang,memandang kelautan lepas,sinar matanya seolah ingin mengejar semburat senja yg kian temaram.tangannya gemetar menyulamkan kalimat diatas sehelai kain yg telah usang, “aku cinta kepadamu”, helai kain itu dibiarkannya lepas tertiup ingin menerbangkannya ke tengah samudra luas.

Di tengah kepul asap perkotaan, seseorang mendorong gerobak sayur yang ia jajakan sejak pagi buta ke sepanjang deretan rumah yang berdiri angkuh, cermin mimpi -mimpi malamnya. berjam-jama sampai panas terik matahari membakar wajahnya yang hitam legam, ia harus melayani para ibu-ibu yang menawar sayurnya lengkap dengan celoteh tak berprikemanusiaan sampai setengah mati, demi menawar seharga keping rupiah. Ia harus tetap tersenyum, dan sekuatnya menegakkan kepala demi lembar rupiah untuk merayu istrinya yang seharian bergelut dengan keringat dan kotoran anak-anaknya. sebuah pelukan di malam di bawah sinar bulan sabit akan jadi pengganti semua keletihan mereka…lengunhan yang hangat.

“Katakanlah:”Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. 27:69)”

Kembang dunia, menawan semua mata yang memandangnya penuh nafsu birahi, menari melantunkan ribuan sair lagu penuh rayuan semu. Ia tukar seluruh hidup dan setiap bagian dalam dirinya, demi sebuah teriakan histeria yang dalam diam hatinya, dalam sunyi jiwanya, dalam tangisnya yang kering, menjadi satu-satunya yang bisa menghangatkan dinginnya akan sebuah cinta dalam ruang hati yang tak seorangpun sudi menempati. Ribuan mengelu-elukannya, dunia mengkultuskannya, setiap hati meringkuk menahan getar pesonanya, namun pada akhirnya semua itu menguburnya hidup-hidup, dalam akhir kematian yang mendatangi dengan kecepatan ribuan sayap malaikaT, dia mati pesona, tanpa keagungan yang tersisa, tanpa satupun tangan bertepuk,sendirian….ribuan cinta, tak sanggup menggantikan satu sumber cinta yang sepanjang lipatan hidupnya gagal dia temukan dengan utuh.

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. 30:9)”

Kelokan gang-gang sempit, jalanan berlubang dengan genangan air hujan, harus setiap malam ia lewati dengan sepasang sepatu hak tinggi yang membuat kakinya tanpak jenjang. tubuhnya yang tak lagi sintal dibalut sehelai kain tipis dan ketat sampai batas pahanya, yang putih mulus namun nyaris hilang pesona, di kepitnya tas kecil merek pasaran tempat ia menyimpan lembar rupiah yang setiap malam akan terisi, cukup untuk membeli sebuah parhum aroma bunga setaman, satu saset bedak harga warung, sebatang lipstik perona bibir keriputnya dan sebungkus susu instan bagi anak kecilnya yang ditinggal laki-laki tak berkumis. setiap malam buta ia akan menyelinap diantara gubuk-gubuk tua, siap mengangkang melayani nafsu durjana para lelaki, dari mulai yang berdasi sampai pria yang cuma bermodalkan kartu tanda pengenal, ia layani semua, dengan keringat yang tak lagi beraroma bunga setaman. setelah semuanya terpuasakan, ia pulang dengan tubuh gontai, mandi junub, berwudlu, berdiri diatas sajadah kumal, mengenakan sehelai mukena, takbir dengan terbata, membaca ayat demi ayat yang ia tak mengerti artinya, gerakan demi gerakan hingga selesai, dan ditutup dengan sebait do’a sederhana mungkin setengah naif ” Ya Robby, besok beri aku rizki lagi…”

Dalam episode lain, berkelompok orang-orang “berwajah intelek”, mengepit buku-buku tebal, berjalan berjinjit menyusuri kolidor bangunan megah yang kata orang elit itu disebut kampus, katanya tempat orang-orang pinter dan berduit berkumpul, membicarakan tentang ilmu filsafat. mulai dari filsafat umum sampai filsafat politik, katanya itu materi paling rumit tapi keren…berfilsafat..begitulah awalnya sebuah ilmu berdiri tegak, diatas sebuah filsafat, tidak hanya itu mereka belajar tentang ekonomi, seni, sampai komunikasi,oh jangan lupa ilmu politik juga ikut jadi santapan mereka setiap hari. Selesai jam kuliah, mereka membuat spanduk caci maki yang akan dijejalkan pada mulut-mulut orang-orang yang menurut mereka tidak beretika. teriakannya dari mulai maling…., sesat sampai tidak malu membawa nama Tuhan. Berbaris kadang mirip bergerombol, berlarian, berteriak menembus jalana kota, bersaing dengan para supir angkot yang bertaruh mati untuk sekeping rupiah, berterik mengatas namakan rakyat, kebenaran, syareat,….lengkap dengan batu, pentungan, ikat pinggang, minimal mengangkat sebuah bendera yang dengan bangga mereka kibarkan atas nama kebenaran. Yang tidak intelek atau termasuk aliran sesat dan menyesatkan ummat, cukup berjongkok dengan mulut menganga…celoteh pedagang asongan dengan naif bersahutan “wah…gawat demo lagi nech…jadilah entar kita makan siang ngutang…apes..apes..”

Ribuan, ayat-ayat Allah berpentas dengan bahasa-bahasa yang berbeda, bersembunyi di balik para pelaku maksiat yang terang-terangan, berdiri tegak diantara mereka yang mengatasnamakan kebenaran, berseliweran dalam setiap lakon hidup yang berjejer rapih dijalanan dengan semua adegan-adegan khas seting bahasa Tuhan yang halus, tanpa menggurui,.

Dimulai dari adegan seorang ibu yang menyusui anaknya sampai…kemarahan yang menyala dari wajah seorang wanita yang menghempaskan bayi merah kejalanan tak berbantal empuk. Dimulai dari seorang pemimpin tertinggi yang menekuk lutut menekan keakuannya menghadapi murka rakyat yang berbekal teori naif, sampai seorang penguasa dunia yang meluncurkan pesawat tanpa awak untuk membidik sasaran empuk siap mati. Dimulai dari seorang lugu yang membaca ayat-ayat tuhan kemudian menyampaikannya dengan bahasa lembut, akhlakul karimah, sampai barisan “suhada ” yang membawa maut meledakkan dirinya ditengah pasar tempat para penjaja minyak kelapa sampai beras kiloan, yang mengadu nasib dengan cuma bermodalkan bismillah. Ribua….ayat-ayat Allah seolah ingin membelah rasa kemanusiaan, menjentikan akal manusia, menorehkan kedalam hati untuk direnungkan, melebihi nilai hatamnya ayat-yata Alquran, yang terkadang sungguh disayangkan kita kesampingkan, atau diperhatikan cuma sambil lewat, memberi nilai halal dan haram, untuk kemudian terus berlalu, melakukan sesuatu yang dianggap lebih besar, lebih terhormat.

Itu baru lakon manusia, yang semakin kita cari setiap sudutnya, maka akan semakin heroik dan beragam warnanya. Sekarang bagaimana wajah bumi dan apa yang tumbuh dari dalamnya, serta bagaimana yang menyertainya bekerja dengan kepatuhanTuhannya dan sudah seharusnya mereka patuh. Lihat deretan pohon eq yang menguntai membentuk pagar alam dimana sebuah kehidupan yang memberi nafas bagi manusia, begitu agung menjalankan tugasnya, gunung-gunung ba mutiara jijau, tinggi menjulang, menyembunyikan gelegak lava yang bagaikan tungku saqor, mencakar kokoh kedalam dasar bumi, menjaga dan menciptakan sebuah putaran bumi yang seimbang.

Sejurus mata memandang hamparan laut lepas tempat rembulan bulat yang purnama bersaing berebut cermin dengan semburat sinar surya memberi tanda bagaimana seharusnya angin laut dan angin darat bertukar peran mengantarkan para nelayan mencari ikan demi memberi banyak kehidupan, lautan bagaikan harta alam yang disimpan Tuhan untuk memenuhi semua nafsu manusia, akan dijadikannya ia menyukai keindahan dan rasa ama. Didalamnya tersimpan, minyak, batu bara, jamrud sampai rumput laut…..buka surat Ar rahmaan, disana kita akan melihat bagaimana Allah memetakan ayata-ayatNya yang Ia pentaskan di langit dan dibumi serta apa yang ada diantaranya, yang untuk mengerti itu semua, Allah menciptakan potensi dalam diri manusia, berupa akal, panca indra, hati nurani dan lengkap dengan bentuk dan rupa yang sempurna.

Itu sekeping dari satu sisi, di waktu lain, bumi bekerja dengan bahasa yang berbeda, dalam sekejap mata, guncangan dahsyat menghentak tungku-tungku perapian disetiap rumah yang tengah menanak nasi, menghentak tidur nyeyak menghentikan mimpi yang beruntai, memutus dzikir, menyeret para pendosa dari peraduan. Bumi benar-benar berguncang, mengoyak semua yang berdiri kokoh di atasanya, tak perduli terikan atau lengkingan bayi=bayi yang tercerai berai dari pelukan ibunya yang kalut. untaian belum selesai,…lautan meluap bagaikan cakar-cakar elang, meraup semua yang bertebaran didaratan menarik masuk kedalamnya, menenggelamkan semua keindahan, meninggalkan lumpur-lumpur yang menyelimuti manusia -manusia yang menjadi bangkai dalam hitungan jari.

“Apabila langit terbelah,dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh,dan apabila bumi diratakan,dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,] dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya. Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,dan dengan bulan apabila jadi purnama,sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).
Mengapa mereka tidak mau beriman?. Qs.Al Insyiqaaq:1-20”

Jangan mengucap hamdalah dulu, belum selesai kita mempelajari sesuatu, satu ayat saja, kita coba hubungkan dengan konteks yang berjejalan didalam kehidupan nyata yang bisa kita lihat dengan mata, satu ayat saja….gabungkan dengan media kontekstual Allah….jangan dulu mengatakan hatam Qur’an.

Sebagaimana Allah telah mengutus para Rasul beserta kitab sucinya (alqur’an/kauliyah)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dan Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu Cahaya yang terang benderang”. (QS An Nisa 4 : 174 )

, dan ayat2 Allah yang terdapat pada kehidupan manusia dan segala sesuatu yg ada disekitarnya (kauniyah)

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang yakin dan juga pada kamu sendiri maka mengapa kamu tidak memperhatikan ? ” (QS Adz Dzariyat 51:20-21)

Maka kita semua akan melewati proses yang panjang, ikhtiar yang berulang, memegang keyakinan namun dikali lain tak berhenti untuk terus melengkapi, bertanya dan merenungkan. Tidak bisa berdiri sendiri untuk memahami ayat-ayat kauniyahNya, kita semua saling memerlukan untuk saling melengkapi, apa yang menjadi sudut tafsir-tafsir yang beragam. Didalamnya dan diantaranya,Akan banyak cacat cela namun kerendahan hati yang akan membuat kita mampu menangkap nilai positipnya.

Begitulah, akupun masih perlu lebih banyak memahami sesuatu…

Bandung, 13 januari 2010,,,,dalam kenangan bersamamu aku menulis ini “duhai cintaku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s