Bagaikan Bersemayam Dalam Kepompong

dDan sesungguhnya Dialah yang telah menjadikan orang tertawa dan menangis, dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan . Qs. 53:43-44″

Untuk beribadah dan untuk diuji, bukanlah satu-satunya alasan mengapa manusia diciptakan, ada satu alasan yang tidak tertulis dalam Alqur’an namun tersirat dalam makna yang terdalam. Satu alasan yang diantara semua makhlukNya dari mulai malaikat dan jin, hanya manusia yang akan memilikinya. Itulah sebabnya mengapa kita diberi potensi akal dan hatinurani,yaitu demi untuk mengetahui alasan tersebut.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. 16:78)

Tidak hanya sebatas bagaimana seekor ulat bermetamorfosis hingga mejadi kupu-kupu, ada yg lebih hakiki, yaitu bagaimana seekor ulat bergulat dalam perjuangannya ketikaka dalam kegelapan, sebelum menuju cahaya dan kebebasan, dan setelah melewati prose situ, makna yang dibawanya tidak lagi Cuma sebagai ulat belaka, ketika ia menjadi kupu-kupu yang keindahannya menjadi lambang sebuah cinta sejati bagi manusia. Hanya dari seekor ulat yangg melewati prosesnya saja, kita akan memperoleh sesuatu yang bernilai dalam jiwa, bagaimana jika itu berarti dari seluruh kehidupan kita.

Maka terlalu sederhana jika kita diciptakan hanya sebatas untuk beribadah dan menghadapi ujian, jika hanya dimaknai sebatas itu, maka ayat-ayat suci Alqur’an cukuplah berisi tentang bagaimana ritual-ritual itu dilakukan, dan cukuplah Allah menjelaskan peran dari setiap manusia, sepetri yang dilakukanNya pada para malaikat bahwa mereka memilki tugas masing-masing. Maka Allah dalam ayat-ayat agungNya tidak perlu menurunkan ayat seperti ini:

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. sesungguhnya pada yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang beriman”. (QS. 16:79)

Jangan membatasi pesan Tuhan, dengan hanya membaca alqur’an sebatas tekstual. jangan hanya membaca satu arah, tapi berkomunikasilah dengan Allah. Bukankan Ia dengan sangat jelas mengajak manusia untuk berjalan dimuka bumi, melihata dengan indra dan meresapi dengan hati nurani, memeras setiap apa yang tampak menjadi sebuah makna yang dapat mengisi relung jiwa, sehingga kita dapat menagkap nilai-nilai tersembunyi dari semua yang Alah jadikan menjadi bagian dari kehendakNya untuk diamati manusia, sebagai makhluk yang paling mulia.

Berbicaralah dengan Allah tidak hanya dalam shalat, karena shalat hanyalah sebatas gerakan ragawi, hanya baru satu dari sekian banyak bukti kongkrit penghambaan kita, jika kita hanya bertumpu pada gerakan dan bacaan, maka hidup kita hanya sebatas beribadah dan mendapatkan nilai dari ujian, jika begitu apa bedanya dengan seorang pedagang, dan tidak lebih dari derajat seorang malaikat yang sudah diseting untuk beribadah.

Kita merasakan rasa marah, ketakutan, harapan, cinta,kebingungan, obsesi, rasa ingin tahu hingga kesedihan, karena ada sesuatu yang ingin Tuhan ciptakan dalam jiwa kita, sesuatu yang tidak akan kita temukan dalam ritual-ritual ibadah, sesuatu yg tidak akan dimiliki makhluk lain, kecuali yg bernama manusia, dan itu tidak hanya sebatas ujian, dan hanya bernilai ibadah jika kita berhasil melewatinya.

Untuk mencapai keutamaan manusia disamping makhluk-makhluk lain yang juga bersujd kepadaNya,maka, berjalanlah dimuka bumi…lihat bagaimana bumi dihamparkan, lihat bagaimana langit ditinggikan, lihat bagaiman unta diciptakan dan memberi manfaat bagi manusia, renungkan bagaimana manusia di hinakan dan dimuliakan antara satu dengan yang lainnya, lihat bagaimana suatu kaum dihancurkan, lihat bagaiman raut wajah seorang ibu ketika menyusui anaknya,…
sampai bagaiman kita diberi bisa merasakan sesuatu dalam jiwa, ketika jatuh cinta.

Sampai pada episode paling sederhana, ketika seorang supir angkot, menembus jalanan kota, berkejaran dengan maut, caci maki yang melaut,peluh yang menganak sungai, atau sampai pada episode lakon diri yang kadang terasa begitu heroic, namun diujung perjalanan, ketika ujian itu selesai, kita tiba-tiba menjadi orang pertama yang menertawakan air mata sendiri, dan berubah menjadi sibijak dimana semua orang mendatangi untuk sekedar bertanya, bagai mana caranya bisa terlepas dari masalah mereka tanpa terjerat sebuah tipu daya.

Jika kita sudah sampai pada saat itu, maka itulah yang saya magsud, hidup tidak sekedara untuk beribadah, karena jika hanya itu, Allah tidak perlu menurunkan Adam as dan Siti hawa setelah mereka berbuat lalai dan bertaubat, cukup saja Allah menyuruh mereka menyempurnakan ibadah mereka. Isarat itu telah ditampakkannya ketika para malaikat mengomentari pemberitaan bahwa Allah akan mencipatakan manusia.

“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Qs.2: 30

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. QS 11: 24

Untuk lebih mengena, mariku sifatkan kembali, semoga Allah memudahkan untuk membaca isaratnya.…Kesempurnaan penciptaan manusia, bukan hanya pada bentuk dan akalnya semata. Allah menciptakan kemudian mematikan, satu jiwa mengganti jiwa-jiwa yang lain…tidak hanya sekedar untuk berlomba memburu pahala surga, namun lebih dari itu, yaitu bagaimana kita mengambil peran dari setiap kesempatan hidup yang diberikan.

Tidak ada manusia yang diciptakan, ditakdirkan hanya untuk sekedar memenuhi hajat hidupnya atau bagaimana ia setelah melewati kematiannya, setiap diri…jika mau melihat kedalam diri masing-masing akan menemukan potensi tersembunyi untuk difungsikan sebagai pembawa amanah yaitu seorang khalifah dimuka bumi, dan tidak hanya sebagai pemimpin, atau menjadi yang terbaik diantara sesama, tidak harus menjadi yang terdepan atau yang paling lantang didengar orang, tidak harus menjadi paling gemerlap, tidak harus menjadi paling fasih membacakan alqur’an, menghafalkan ribuan hadis,menjadi bermakna, tidak harus menjadi yang paling.

Jiwa yang telah terisi oleh pemahaman dan penempaan yang telah melewati banyak ujian sampai pada kesimpulan bagaimana hakikat Allah dalam jiwanya, menjadikan ia bernilai manusia, melebihi malaikat yg telah diseting untuk terus beribadah, melebihi jin yang dengan satu kedipan bisa memindahkan istana ratu balkis kehadapan Sulaiman as.

Allah yang telah membuat kita menangis dan tertawa, layaknya seorang pandai besi yang menjadikan tajam dengan membakar dan menempanya berulang-ulang, maka jangan jadikan kehidupan ini hanya sekedar mendulang nikmat surga atau sekedar menyelamatkan diri dari ancaman neraka, jika kita terus mendekatkan diri kepada Allah dengan hati terbuka, maka kita akan menemukan alas an bahwa Adama dan Siti hawa bukan permulaan hanya untuk mencontohkan bagaimana beribadah, tapi bagaimana menjadi bermakna melebihi makhluk-makhluk lain yang juga beribadah.

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”( Al-Hajj : 18 )

Dari semua pergolakan hidup yang diujikan atas makhluk-makhluk Allah, jiwa manusia akan melewati apa yang tidak dilewati makhluk lain, yang segala liku dimensinya membawa manusia pada kebijakan yang tidak akan dicapai oleh makhluk lain, kebijakan yang bertumpu pada hakikat kemanusiaan dan makna penghambaannya, dan ketercapaian ma’rifatullah, dimana setiap manusia menemui waktu yang berbeda-beda dalam pencapaianya, ditentukan oleh kejeliannya dalam mengkomunikasikan seluruh potensi dalam dirinya dan keterhubungannya dengan Allah yang mencoba berkomunikasi dengan setiap hambaNya melalui teks (Alqur’an), para utusanNya dan segala apa yang ada dibumi maupun dilangit, serta apa yang tampa diantaranya

Kebijakan adalah ketinggian pencapaian kemuliaan manusia di atas makhluk Allah yang lain. layaknya pisau yangg ketajamannya telah melewati tempaan dan bara api, Tidak diperoleh dari tumpukan buku berjejal,gelar beruntai-untai. Karena itu untuk sebatas menjadi tahu dan hanya perhiasan lidahmu. Kebijakan, bagaikan tabung kosong yang akan Allah isikan pada jiwa manusia melalui perintah dan laranganNya serta semua yang diujikan pada kedalaman jiwanya, ketika dihadapkan padahari pertanggung jawaban, ahli surga dan neraka akan menemukan hakekatNya. Dimana seorang Mu’min akan mendapati kepuasan dalam jiwaNya karena mampu menangkap pesan-pesanNya, sementara sikafir akan dihujam ribuan penyesalan.

Maka buatlah sebuah perbedaan, melebihi dari sekedar kata ibadah.

Bandung Pkl.11:00
DariMu, UntukMu dan kepadaMu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s