Selintas Wajah Islam di Ujung Peradaban (episode “Berjejal Risauku)

Pada proses internalisasinya islam bagaikan air yang mengikuti bentuk setiap nalar yang menginterpretasikannya, maka dari itu yang menjadi prioritas sekarang adalah bagaimana mengkomunikasikan perbedaan interpretasi itu, sehingga keragaman pemikiran tafsir islam menjadi kekayaan bukan kelemahan….,jika kita lalai pada apa yg harus menjadi fondasinya, maka ide apapun untuk tegaknya islam akan mudah dikoyakan kembali.

Meski Islam terbingkai oleh alqur’an dan sunnah,namun ia terus berkembang dan bergerak dalam proses penafsiran, interpretasi dan pemahaman pengikutnya yang relatif. pada saat ini pemikiran umat islam, merupakan produk dari Budaya Interpretasi tanpa mengedepankan sikap kritis, berawal dari peran ulama yang bersifat figuritas (tanpa bermagsud menyamaratakan), pembelajaran yang menitik beratkan pada tekstual, Kurang pengayaankonseptual , sampai pada kurangnya pendekatan yang bersifat kontekstual dalam mengkomunikasikan nilai-nilai Alqur’an dan hadits.

Perkembangan pemahaman terhadap Islam semakin komprehensip dan sedikit “heroik”, seiring dengan perubahan yang bersifat global, melalui teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan, pendidikan, sampai pada kekuasaan, yang mempengaruhi bagaimana umat Islam berkomunikasi dengan litelatur agamannya.

Sangat penting untuk senantiasa memahami bagai mana pada awalnya Islam ditegakkan, dalam budaya seperti apa, dengan retorika bagaimana, dan berbagai permasalahan yg dihadapi para pejuang Islam terdahulu. Namun perkembangan peradaban manusia dimana nilai-nilai Islam dan budayanya bersaing tempat dengan ilmu pengetahuan dan kecenderungan perubahan manusianya sangatlah tidak bisa diabaikan, untuk dikaji lebih mendalam pula. Disinilah kita, terutama yg begitu bersemangat berada secara atraktif digaris terdepan, untuk mencari bagaimanakah selayaknya Islam itu dikemas, hingga mampu secara aktif positip dapat diterima tanpa harus menumpahkan darah dan membuat kerusakan, tanpa harus ada sekelompok kaum yg terusir, dikecilkan apa lagi dikafirkan hanya karena warna tafsir mereka tidak sejalan dengan apa yang mampu kita nyatakan paling benar.

Befikir kritis, namun mengedepankan alkhlakul karimah, menyiapkan diri untuk berfikir dan bersikap terbuka, dan toleran ketika berhadapan dengan berbagai sudut pandang, menghilangkan obsesi harus selalu menjadi pemimpin dalam berbagai gerak dan bentuk perubahan, bersikap lebur dalam bermu’amalah dengan menghilangkan otoritas pengkastaan kualitas pengamalan keberagamaan yang membuat umat Islam terpisah satu sama lain, harus menjadi dasar utama untuk dikedepankan, dalam menghadapi warna baru dan sangat berbeda, yang suka atau tidak harus diakui sangat berbeda jauh dengan kondisi yang dihadapi oleh Muhammad saw dan para khalifah. Tanpa sikap itu, bagaimanapun Islam ditegakkan, apada akhirnya hanya bagaikan mengukir kata diatas Air, hingga benarlah umat Islam tak ubahnya bagai buih dilautan, ribuat berteriak Islam, tegakkan Islam, tapi hanya sedikit yang th bagaimana menjadi mu’min.

By alfi arni,11: 21AM

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s