Panca indra akal dan khayal

Menuntut ilmu tempat bertemunya akal dan khayal, ke duanya laksana sepasang sayap burung yang membawanya terbang, saling bergantung dan melengkapi.

Dalam perjalanan spiritual akal dan khayal, merupakan dua potensi yang akan membawa siempunya, menaiki tangga-tangga ma’rifatullah, membuka tabir fitrah tentang siapa dirinya, perannya,tugasnya dan bagaimanakah Allah berperan dalam lakon kehidupannya.

PAda proses pencariannya, akal dan khayal bagaikan perjalanan mengarungi samudra yang luas, dimana khayal umpama perahu yang akan mengantarkan kita mengarungi lautan IlmuNya, dan akal adalah nahkoda kapal yang akan mengarahkan perahu khyalan sampai ketujuan.

Tertulis dengan agung, kisah Ibrahim dan barisan ayat-ayat yang maha muliaNya. Awalnya Ia berkhayal dalam pencariannya tentang kekuatan yang Maha, tempat ia bergantung, yang akan menjadi sembahannya. Bekerjalah akanya, bahwa yang “Maha”, haruslah memiilki kemampuan penciptaan, pengaturan, pengendalian,penghancuran,pembuktian, dan keluasan kemampuan yang terlepas dari batas-batas kemampuan segala yang bersifat diciptakan. Maka dibawanya khayal nya itu pada bentuk bintang, bulan,matahari, sesuatu yang diatas dan memberinya manfaat.

[6:76] Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

[6:77] Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

[6:78] Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

[6:79] Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

[6:80] Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?”

Lihatlah, indra membawa Ibrahim menikmati keindahan, keterpanaan hingga membawa hatinya menjadi merasa teramat kecil, Namun khayal dan akal terus membawanya kealam ketidak puasan, mana kala indra menemukan benda-benda planet itu terus tenggelam berganti peran, hingga dorongan fitrah memberi tahu akal untuk mengusik khayal, bahwa yang tenggelam tak pernah berkuasa. Dengan bantuan indra khayal terus mereka-reka, dan indra melihat dan merasakan, sementara akal memberi nilai, hingga Ibrahim seorang hamba pilihan menemukan pintu ma’rifat, bahwa sungguh ada yang Maha menciptakan diatas semua yg dia lihat dengan indranya, dia kagumi dengan khayalnya dan dia nilai dengan akalnya, maka tunduklah indra,akal khayal dari pekerjaan yang menghantarkan jiwa pada fitrah sucinya, hingga masuk dan meresaplah cahaya diatas cahaya yang terpancara dari sifat Kemahaan-Nya, disebabkan kerendahan hati, hingga sampailah pada ketinggiannya “Tiada Tuhan selainAllah, yang menghidupkan dua kali dan mematikan satu kali.

Maka tidak kah kita renungkan, mengapa berulang Allah mengatakan, tidak kah engkau berfikir dan merenungkan, tidakkah engkau berjalan dimuka bumi dan melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang tidak menggunakan fikirannya dan menuhankan nafsunya, sebagai mana termaktub dalam kalamNya:

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? QS. 12:109.”

Sudahkah kita menggunakan seluruh potensi yang Allah berikan untuk membuka pintu-pintu ma’rifat, mengfungsikan khayal kita, akal, rasa dan indra, agar terungkap semua fitrah yang masih tersembunyi dalam diri kita, dikarenakan selalu memperturutkan hawa nafsu demi kepuasan, keangkuhan dan kekuasaan akan ilmu pengetahuan untuk menjadi yang maha ditengah sesama umat manusia, yang tidak lebih dari makhluk yang terbelenggu dengan segala keterbatasannya.

Maka rendahkan diri kita,waspadai pekerjaan hati kita, yang sifatnya terus berubah dengan kecepatan melebihi kedipan mata. Tiada yang dapat menuntun kita pada ma’rifat, melainkan Dia pemilik cahaya diatas cahaya. berhadapanlah denganNya dengan kerendahan hati, jangan pernah meresa sudah cukup tau….

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.
QS. al-An’am (6) : 43

alfi arni, bandung, 1:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s