Bersekutu dengan Do’a

Berdoa,tidak hanya sebatas kumpulan kata-kata yang terangkai,mengutip ayat-ayat pilihan…berharap menjadi alasan menuntut pengkabulan. Berdo’a ,berarti siapa yang diminta siapa yang meminta. Berdoa adalah pengakuan akan keterbatasan diri, kelemahan dan ketidak tahuan. Berdoa adalah pengakuan akan kekuasaan dan kebesaran, serta penyerahan diri tanpa batas pada Dia yang tidak memiliki segala keterbatasan namun menguasai segala kekuatan yang ada di langit dan dibumi, berdo’a adalah penyerahan atas segala bentuk kehendak Allah yang maha meliputi segala ilmu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Seringkali, diam-diam menyelusup kedalam hati,…kita merasa berhak mendapatkan keterkabulan do’a, dari semua amal ibadah kita, dari ikhtiar kita memeras keringat, dari rasa tahu kita akan apa yang kita yakini baik atau buruk. Doa hanya dijadikan ajang pencapaian tujuan, penuntutan janji-janji Allah, maka jadilah kita umpama seorang saudagar, bertawar dengan kehendak Allah atas nilai ikhtiar dan ibadah kita yang seolah ingin melompati batas kehendakNya.

Bersembunyi dalam do’a, lautan kebencian, ketakutan kepada selain Allah, keinginan yang begitu membuncah….duduk dalam ribuan shalat, melantunkan dzikir yang semakin terdengar seperti orang mengigau dari pada pujian dan pengakuan. Dzikir dibuat bukan sebagai alunan rayuan seorang hamba Akan rahmat dan kasih sayang, namun berubah menjadi 3×3,100×100,1000×1000….semuanya hanya angka…..semakin beribu asmaNya terucap, semakin sakti mandraguna dzikir kita,….sampai lupalah kita akan siapa yang disebut dan siapa yang diminta.

Demikianlah seorang hamba Allah berdoa, dibalik dinding-dinding cermin yang menghadirkan kebisuan disepanjang hari-harinya. dan mungkin demikian pula hamba-hamba Allah lainnya berdo’a, berusaha menghadirkan keluh dari relung hatinya yang terdalam, berusaha melewati keterbatasan verbalnya. Doa yang hanya berarti meminta, menghiba. Doanya kian melengking, manakala kehendaknya bertambah melaut berkejaran dengan gelisah hati yang takut, demi satwa sangka akan berbalik arah takdir darinya mengikuti kehendaNya.

Dalam do’a, menyelusup pemaksaan atas kehendakNya, bergantung pada keterkabulan do’a yang dianggap sebagai satu-satunya penyelamat, tanpa sadar disaat kita meminta, kitapun menyekutukanNya.

Memalukan, lengkingan do’a-do’a itu, tidak lebih demi menghentak sesak dalam hati menjadi terasa samar melebihi dari bisikan, apa bila hati kita dihentak kebahagian, apabila telah tunai semua janji-janjiNya kepada setiap hambaNya yang meminta. Dalam rasa bahagia, doa-do’a itu tak lagi menghadirkan, bagaikan sepasang pengantin yang hatinya berkejaran antara hasyrat birahi yang ingin segera dipadamkannya. Kesedihan yang palsu, ketakutan yang palsu, pengkuan yang sesaat, karena setelah Do’a terjawab dengan buah kepuasan, maka seketika jiwa berbalik arah, menjadi keponggahan, pengingkaran dan ketamakan

Lebih mirisnya, terkadang do’a yang menghiba itu hanya ada untuk diri sendiri. Untuk orang lain, seakan kita tak henti berhitung kata. Duhhh, mungkin telah lama tanpa sadar, ada keangkuhan dalam do’a kita, ada keserakahan. Hati kita bertopeng. Pernahkah kita diam-diam menyelami hati kia setiap kali berhadapan denganNya?, mungkin ada tipuan disana!
Seharusnya, biarkanlah sesekali….hadapkan diri dan hati, sekedar menyapa kebesaranya dan keagungannya, sekedar ingin mendekat, sekedar ingin merasakan hanya bersamaNya, sesekali kenapa kita tidak, berhadapan denganNya…untuk menguntai kata dan rasa…berkata…”Rabbi sekarang aku disini dihadapanMu, ridokah Engkau hari ini padaku?…beberapa waktu yang lalu aku membuat Kau cemburu….aku melupakanmMu ketika aku sibuk mencari sesuatu untuk mengisi perutku, aku melupakkanMu ketika dia yang mempesonaku melempar senyum dan beradu pandang denganku, aku melupakanMu demi tangis anakku, aku melupakkanMu demi nama besarku, aku melupakanMu saat aku mengejar kendaraan yang akan membawaku pada acara penobatan kekuasaanku, aku melupakanMu bahkan hanya pada saat seseorang menyerobot antrianku. Kini, aku ingin menghabiskan waktu bersamaMu, maafkan aku, karena aku belum sepenuhnya menggunakan jiwa dan raga ini demi Ridomu, belum banyak aku membuat Engkau suka, belum banyak aku membuat Engkau “bersyukur” padaku, Aku ingin membuat Engkau jatuh cinta padaku, ajari aku menemukan pesonaku untukMu.

Kenapa , tidak sesekali…kita datang bersimpuh untukNya, hanya untukNya…bukan untuk sesuatu atau apapun yang ada dibelakang kita….

Bandung,11:10
Alfi arni, untukmu juga duhai jiwa yang disembunyikan waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s