Berjalan di Atas Ujian

Berjalan di Atas Ujian

SUNTING— alfi arni akhtaf@ 12:28 AM /25-09-2011

Banyak dikisahkan dalam alqur’an, mengenai tingkatan kesabaran dalam menghadapi ujian, salah satunya kesabaran seorang nabi mulia bernama yaqub as. Memaknai kesabaran ya’qub dalam menghadapi ujian dari anak-anaknya yang tengah mendengki, serta ketajaman hati yaqub dalam membaca kehendak Allah yang tengah berjalan mengantarkan yusuf menaiki tangga-tangga kemuliaan, kesabaran yang maha berat…, menahan diri dari menghakimi, ratapan kerinduan, dan keluhuran bahasa yang digunakan demi membimbing anak-anaknya yang tengah hilaf.

Jangan diduga, ujian adalah semua yang membuat hati kita tercekat sampai keleher karena menahan sedih dan marah yang bertemu jadi satu, tidak semua ujian itu berarti kehilangan, karena banyak orang diberi nikmat oleh Allah, tapi tidak merasakan kenikmatannya, bahkan nikmat itu menjadi siksaan terdekat dan tercepat baginya, hanya karena dia tidak tau bagaimana cara bersyukur.

Ujian terkuat yang harus dihadapi manusia adalah apa yang berkecamuk dalam hatinya, seringkali ia merajai jiwa menjadi penggerak yang heroik kehidupan seseorang dalam mengaktualisasikan diri dengan lingkungan sekitarnya, demi menyatakan dirinya ada. Seringkali seseorang menjadi teramat rapuh demi merasakan apa yang ada dalam hatinya, ia tidak mampu merasakan apapun selain apa yang ada dalam hatinya, betapapun ia tahu segala hal, namun ketika ia harus berhadapan dengan hatinya, maka ia sendirian.

Gejolak hati, selalu berjalan sendiri, melepaskan diri dari apa yang telah dipahami nalar. Seorang muslim tau apa saja yang merupakan penyakit hati, dari mulai sifat sombong, iri, dengki, hingga khayalan yang melambung sampai kekaki langit…tersesat tidak menemukan pintu realita yang bisa disentuh oleh indra dan nalar, namun permainan hayal itu terus saja di ikuti, mencari kepuasan yang tidak pernah mengenal kata wujud. Kita tahu dan menyadari, namun kita tidak bisa menghentikan hanya dengan pengetahuan kita….hayal itu terus menyiksa dan melalaikan, maka benarlah ujian yang manusia sering gagal menghadapinya adalah ketika ia harus berhadapan dengan hatinya sendiri, dan semakin berat ketika gejolak hati kita sudah disambangi permainan syetan, sebagaimana M.Quraish shihab berkata bahwa “nafsu letaknya didalam diri manusia, sementara syetan ia datang dari luar, berhati-hatilah jika nafsu dan syetan sudah berkolusi.

Jika kita cukup jeli, sebenarnya Allah tdk pernah membiarkan kita kehilangan segalanya, selalu ada yang dibiarkan tetap ada, yang dengan itulah kita bisa bersyukur dan memulai. Dari apa yang Allah biarkan tetap ada, maka itulah peta kehidupan untuk hambanya, bukti jika pertolongan Allah sangat dekat.

Kesyukuran adalah kecerdikan memberi nilai pada apa yang kita miliki bukan pada apa yang tidak ada dalam kuasa kita, rasa sakit, kesempitan, teraniaya, yang sangat…bukanlah sebuah penyiksaan dan pengabaian Allah terhadap hambanya, namun penempaan hati untuk mencapai derajat mulia sebagai hamba. Dengan kesakitan kita akan mampu menghargai kenikmatan sekecil apapun. Dari kegagalan, sorang hamba memperoleh kekuatan untuk berjuang agar berhasil. Allah menempatkan hambanya di dunia dengan segala dimensinya, agar merindukan apa yang ada disisiNya. “umpama seorang pandai besi, ia menempa besi dan membakarnya siang dan malam, mengasahnya tampa henti, bukan karena ia begitu membenci besi, namun demi menjadikannya tajam”.

“wa annahuu huwa adhka wa abkaa”(An Najm 53: 43) bersiaplah, karena tertawa dan menangis akan menjadi bagian dari perjalanan yang diujikan kepada kita.

Demikianlah Allah jadikan kita memiliki kepekaan hati, untuk dapat merasakan kebahagian dan kesedihan, buah dari keinganan dan apa yang tidak diharapkan. Untuk itu semua, setiap dari kita diberi takaran yang berbeda. Ketika, seorang hamba dihadapkan pada ujian yang menghimpit jiwanya tidak lah berlalu kesempitan sebelum kita berusaha keluar dari keadan dengan segala daya dan upaya. Berikut tujuh dari yang dapat diusahakan sebagai pembuka pintu pertolongan:

1. sabar ( kesabaran yang produktip)
@ Kesabaran bukan berarti kita mendidik diri menjadi manusia yang apatis, tak ubahnya seekor unta yang tetap tegak berdiri ketia ia mau disembelih. Kesabaran yang harus ada adalah kesabaran yang produktip, kesabaran yang membawa kita memfungsikan segala potensi yang kita punya untuk memperbaiki diri, kesabaran yang membuat kita tampil menjadi pribadi yang percaya diri sehingga tau bagaimana harus menjaga diri tanpa harus menyakiti, kesabaran yang membuat diri kita terus berjuang hingga kita tidak berakhir menjadi pribadi yang mencari belas kasihan, melainkan memberikan manfaat pada orang lain sekuat-kuatnya ditengah apa yang menghimpit diri kita sendiri.

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (Shahih Muslim 5318)

2. tawakal (tawakal yang ikhlas)
Tidak ada ikatan yang paling kokoh, tidak ada yang memahami diri kita sampai pada apa yang kita sembunyikan dalam hati melainkan Allah, “jika Allah dijadikan Imam dan tujuan, maka tidak ada sesuatupun yang akan melemahkan”, dengan mengenali sifat-sifatNya maka akan cukuplah bagi kita untuk mendapatkan ketentraman, meredakan ketakutan, kegelisahan, dengan senantiasa memperbaharui kedekatan kita dengan Allah, kita akan tau bagaimana menyeka air mata kita sendiri. Dengan keyakinan dan keikhlasan, maka kita benar-benar telah mendapatkan ikatan yang paling kokoh untuk sepanjang hidup kita. Seberapa sering kita limbung dan lemah, ketawakalan kita akan membuat kita tertarik kembali untuk mendekat dan menjadi lebih kuat.

KepunyaanNyalah segala rahasia langit dan bumi. Dan kepadaNyalah dikembalikan segala perkara. Oleh karena itu pujilah dia dan bertawakallah kepadaNya. Tuhanmu tidak akan alpa terhadap apa yang kamu kerjakan. Hud:123

Katakanlah! Kami sekali-kali tidak akan ditimpa musibat, kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kami; dan orang-orang yang beriman hendaklah bertawakal sepenuhnya kepada Allah itu.At-Taubah:51

3. ikhtiar (fokus pada kebutuhan bukan keinginan)
Ketika kita kehilangan sesuatu, maka jangan habiskan waktu hanya untuk menyesali apa yang sudah tidak bisa kita ubah, lihat kedalam diri, lihat keseliling, apa yang masih ada yang bisa kita jaga dan kita manfaatkan untuk maju kedepan dan memulai dengan langkah baru yang lebih baik, lengkapi diri kita dengan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, ikhtiar adalah ibadah mutlak kita sebagai hamba Allah yang diberi akal dan hati.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum ,sampai mereka punya kemauan untuk mengubahnya” (QS.Al-Anfal 53)

4. Ilmu (dengan silaturahmi pada orang-orang shalih dan berilmu)
Kita tidak akan bisa menghadapi sesuatu tanpa ilmu, hidup akan terus membawa perubahan, dan untuk sebuah perubahan kita memerlukan ilmu, agar kita dapat mengenali sifat dan bagaimana menghadapinya. Dan salah satu kunci ilmu adalah silaturahmi, dengan siapapun, yang memilki latar belakang pendidikan dan social apapun, temui mereka , dengarkan, perhatikan. Tidak sehelaipun daun yg jatuh, melainkan atas pengetahuan dan kehendakNya. tidak ada sesuatupun dimukabumi ini, melainkan terdapat ilmu didalamnya, maka rendahkanlah hati dan bertafakurlah…dan buatlah target setiap rentang waktu berapa lama, ilmu kita harus bertambah.

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)

5. Intropeksi diri (ujian bagi orng-orang beriman adalah teguran)
Manusia diciptakan dengan potensi lemah, dari mulai tergesa-gesa, berkeluh kesah, obsesi sampai pada kesombongan dan kelalaian, maka hal pertama ketia kita menghadapi ujian yang tidak mengenakkan adalah melihat kedalam diri kita dan bertanya, “apakah gerangan yang sudah aku lakukan?!

Orang yang pintar ialah orang yang menghitung dirinya serta beramal untuk hari selepas kematian sementara orang yang lemah ialah orang yang menikut hawa nafsunya serta beragan-angan terhadap Allah dengan angan-angan (yang banyak). (Riwayat al-Tarmizi).

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia.Q.S. At-Tahrim ayat 8

Daripada takut akan timbulnya muhasabah. Daripada muhasabah timbulnya muraqabah. Daripada muraqabah hati akan sentiasa sibuk bersama Allah Taala. (Kitab: al-Burhan al-Muayyad).

6. siapkan solusi alternatip
Manusia, memerlukan pengetahuan, sekaligus dibatasi oleh pengetahuannya sendiri, jangan hanya bersiap diri dengan apa yang bisa kita prediksi akan terwujud, persiapkan diri kita untuk sesuatu yang kita bisa duga (akhirat yang berati jika kita tawq adalah surga, dan jika kita ingkar adlah neraka)) dan yang kita tidak dapat duga (kehidupan dunia), persiapkan diri kita untuk menghadapi saat sempit. Menjaga silaturahmi penting untuk mempersiapkan diri kita jika kita sendirian dan kebingungan, berhemat dengan uang kita, penting untuk membuat kita bertahan pada waktu sempit.

7. Bersihkan hati dengan beramal soleh, memaafkan, dan berfikir positip
Beramal sholeh, selalu berusaha untuk membuat diri kita bermanfaat bagi orang lain, akan menguatkan dan membebaskan jiwa kita dari kesempitan, karena hakekat milik kita adalah apa yang kita berikan pada orang lain. Menyadari kelemahan diri akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan, pelihara Rido Allah dan rahmatNya dengan senantiasa memberikan maaf pada siapapun yang mendatangkan kesempitan dalam hidup kita, dan selalulah tumbuhkan harapan……

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Alam-Nasyrah, 94: 5-6

Untukku juga…. duhai hati yang meranting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s