Pengenalan Hati yang Menghadirkan

cinta, kebancian, harapan,ketakutan,obsesi. Semua emosi jiwa menjadi hal utama yang harus dikenali sifat kelemahan dan kelebihannya. MUsuh terbesar manusia dalah dirinya sendiri.

cinta, merasuk kedalam sukma, merajai setiap hasyrat. terkadang melemahkan, dikali lain menguatkan, namun ada saat cinta mempertanyakan banyak hal. Namun cinta memilki bahasanya sendiri. dan cinta, tidak harus pada sesuatu yg bisa disentuh ataupun dirasakan keindahannya. cinta tidak harus pada sesuatu yang menyenangkan hati ataupun memuaskan jiwa

cinta bisa tumbuh tidak hanya karena sesuatu yang begitu lama meliputi rasa, terkadang cinta menyentak hanya karena sesuatu yang hadir sekejap mata,….

begitu banyak bentuk cinta yang ku kenal, seperti anak tangga yang tersusun menuju singga sana arsy-Nya, mungkin tinggal selangkah, mungkin masih ribuan langkah lagi aku akan sampai. dan sekarang akudiperkenalkanNya pd sebuah bentuk cinta yg begitu abstrak, samar, asing, namun begitu memikat hatiku. anak tangga cinta berikutnya,karena cinta ini menghadirkan semua yg nyata dan kegaiban menjadi satu…

pada anak tangga cinta ini, aku menapaki jejak-jejaknya, mencoba memahami sifat-sifatnya, dan dari cinta ini, aku diajari ketulusan , ke ikhlasan dan nafsu yg harus kukendalikan. pada cinta ini seluruh potensi indraku tidak berguna lagi, karena cinta ini tidak terkunci dalam ruang wujud yang bentuknya bisa kupahami. Dan cinta ini menghadirkan…sesuatu yang belum bisa kupahami…..

Kebencian, menggaharkan mata-mata elang yang siap memburu bangkai-bangkai nafsu dari hati setiap manusia yang menghamba pada pesona iblis, membakar hijaunya pohon-pohon yang menjadi tempat berteduhnya hati yang letih, mampu mamalingkan seorang ibu dari menyusui anaknya, mengubah bahasa cinta dengan sumpah serapah yang hanya jadi gambaran kelemahan, kebencian bagaikan pujangga yang menulis diatas air, melahirkan kedengkian bagai anjing yang memangsa penolongnya, kebencian memalingkan manusia dari kelembutan hatinya. Dan pada akhirnya kebencian hanya akan berbalik kepada tuannya….

dengan kebencian kita takkan pernah sanggup menangkap pesan cinta, bagaimanapun pesan itu dibahasakan, kebencian membuat hati dan nalar kita “hanya berjarak satu jengkal dengan dengkul”, kebencian akan menghijab kita dari kesadaran akan kekurangan diri dan menjadi jeli dengan apa yang tidak dimiliki orang lain….

Harapan, dari cahaya diatas cahaya….harapan dijatuhkan pada hati-hati manusia untuk mencari dan bertahan, mengobati hati yang patah…bahasa cinta Allah adalah bahasa yang memberikan harapan bagi manusia yang setiap saat akan dilimbungkan oleh keterbatasan nalar dan hatinya, dalam memahami makna hidup. Namun harapan tidak hanya bisa dibahasakan dan disampaikan oleh Tuhan semata, dengan siapapun hadirkanlah diri kita sebagai pemberi harapan yang menyejukan, meski itu kita tunjukan dengan senyum dan anggukan kepala, meski yang kita punya hanya sebatas kata yang dapat menenangkan jiwa, karena setiap dari kita dijadikan Allah berdampingan adalah semata-mata untuk saling menguatkan dan menentramkan…

Jika suatu saat kita terputus dari harapan, yakinlah akan selalu ada ikatan yang selalu bisa kita kuatkan kembali, akan ada selalu jalan yang bisa kita temukan meski terkadang jiwa kita harus merangkak untuk bisa melaluinya. . Apapun yang hilang dari genggaman dan apapun tujuan yang dikaburkan, maka yang perlu kita jaga dalah apa yang ada dalam hati kita. Jika kita pandai memilih apa yang pantas kita simpan dalam hati kita, amak kita akan selalu bisa menemukan harapan.

Ketakutan adalah kesadaran bahwa kita lemah dan memerlukan sesuatu yang dapat kita jadikan sandaran, ketakutan harus terus kita pelihara, sepanjang ketakutan itu semakin menyadarkan kita untuk terus berdekatan dengan pemilik segala yang maha, yaitu Allah tempat segala ketakutan akan menemukan perlindungan. Namun ketika ketakutan itu mendorong kita menuhankan apa yang pada akhirnya menjadi sumber segala kelemahan, maka saat itu yang bias kita lakukan adalah dengan menghadapinya atau menjauhinya sama sekali. Ketakutan memiliki dua muara, jika kita Jadikan Allah sebagai alasan ketakutan, maka mendekatinya adalah penawar, sebaliknya jika ketakuatan itu pada sesuatu selainNya maka menjauhi dan mengetahui kelemahannya adalah tarekat kita.

Obsesi, perubahan selalu menjadi tujuan bagi manusia yang memiliki kehendak akan pemenuhan keinginan dirinya, dan obsesi seringkali menjadi pendorong utamanya untuk melawan kelemahan hati yang bermuara pada keputus asaan. Namun obsesi bagaikan buah simala kama, memiliki satu wujud namun padanya berkumpul dua nilai, yang seringkali menjadikan jiwa-jiwa yang hanya menjadikan segala yang dapat dicapai oleh indra semata sebagai tujuannya, menjadi lalai dan menjadikan nafsu sebagai tujuan. Ada saat dimana obsesi harus kita lemahkan manakala kita berhadapan dengan keterbatasan dan kehendak Tuhan , juga saat kesadaran akan tujuan hakiki menjadi tidak bisa ditawarkan.

Pada akhirnya pengenalan tarhadap hati dan senantiasa waspada dari apa yang terlintas, akan membuata kita senantiasa tau bagaimana mengendalikannya. Pada setiap orang ada kecenderungan yang berbeda, mengenai apa yang dapat melemahkan, perlu waktu berulang dan terkadang sering gagal ketika kita ingin berusaha mengendalikannya, namun jika kita mampu menjaga kekhusuan hati melalui shalat, dzikir yang dibiasakan, senantiasa berdekatan dengan orang-orang shalih dan berilmu, menjadikan Alqur’an tidak hanya sebatas ritualitas tekstual, namun berusaha memahami dan memaknainya, maka kita akan dimudahkan untuk selalu menghadirkan hati kita hanya kepada kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s