Memaknai Surat Yusuf

surat yusuf, sebuah surat yang begitu merasuk kedalam sukmaku kini…seolah ia menjelma dan mengelilingiku, setiap ayatnya begitu hidup, seolah aku berada disamping muhammad bersama-sama mendengarkan cerita yang penuh hikmah ini.

dalam surat yusuf ,semua sisi relatif dalam kehidupan setiap manusia, tergambarkan dengan sempurna. kedengkian, tipudaya, kesabaran, berbagai gambaran dimensi cinta dan tingkatannya dan keterhubungan satu dengan lainnya, dan figur sang nabi yang diperlihatkan sisi kemanusiaannya dengan begitu gamblang dan rasional.

dan yang paling hakiki ikut tergambarkan pula dalam surat yusuf ini adalah,….bagaimana kehendak Allah untuk seorang yusuf, berjalan dan digambarkan dengan jelas sampai akhirnya….betapa rencana Allah maha sempurna dan tidak mendolimi, pada seorang yusuf dan pada siapapun hambanya.

dan yang tak kalah mengharu biru adalah, perjuangan dua anak manusia (yusuf dan julaikha) menghadapi hasrat, gairah, dan cinta yang keduanya memiliki sisi keintiman yang sama, namun muara yang berbeda. Dia, yusuf, sanggup meleburkan geloranya kedalam…… kekuatan yang hakiki, rasa takut yang mengalahkan….Rasa takut pada yang Maha….yang saat ini begitu tipis dimiliki oleh sebagian besar umat manusia…

oh…betapa aku ingin mati diatas keterhanyutanku…aku ingin mati diatas surat ini, surat ini begitu keras menyeretku….menghakimi keperempuananku…mempertanyakan setiap hasratku akan keelokan, keterpesonaanku pada dia yang sanggup merona merahkan wajahku. Aku mengambil peran dalam surat ini, aku melewati jejaknya, meski dalam ruang dan waktu yang terpaut berabad-abad…

oh…Tuhanku, setiap kata dalam surat ini, menimang-nimang jiwaku, namun saat yang sama mencabik-cabiknya, sungguh perih……oh…duhai Suarat Yusuf…..meleburlah padaku, ajari aku mengenal dan mengendalikan serta menghubungkan hasrat ini dengan kemaha hakikianNya…sungguh ia begitu mempesona, memukau, menyentak keras jiwaku yang dingin, membekukan spiritualitasku….sungguh dia satu perbuatan Tuhan yang begitu sanggup mempesonaku dalam sekejap mata dan diam begitu lama, meski jiwanya telah melebur dalam kubangan lumpur dan ruhnya tengah mengais-ngais ampunanNya…

Oh Surat Yusuf,…hatiku kian meranting…menanggung cinta dan sayangku yang masih semu pada dia yang begitu naif dengan kemanusiaannya. dalma setiap helai daun yang jatuh kebumi ada nafas cintaku mewakili kengerianku pada kedirianku yang kian meranggas dalam kesedihan…

Duhai…Tuhanku yang asing, temani aku dengan surat ini, tengahi aku…

“(hati-hati pada cinta yang menipu, cinta yang membius, cinta yang bersandar pada keindahan dan hasrat semata. Mendekat dan peliharalah cinta yang membawa kita pada kesadaran dan penerimaan. Cinta tidak harus selalu berarti keterhubungan dan persamaan, cinta bukan berarti harus berada pada pijakan dunia yang sama. Pada siapapun kau mencintai, jadikanlah Allah penengah dan tujuan…)”

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s