Nikmat dunia (beauty world, if you so desire)

anggur_merahBanyak manusia mengejar kenikmatan, dan memaksakan diri dari batas kebutuhan kemanusiaannya, mengisap nafsu bagai morphin, memuaskan jiwa demi terus berdesir, mendekati karakter syetan sebagai “rivalnya”, guna terus merengkuh nikmat fatamorgana dunia, seolah ingin menjadi “yang Maha memiliki”.

Demi sebuah kenikmatan, manusia terus mengejar apapun untuk memuaskan lidah, seksual, bakul perutnya, rasa aman, kekuasaan semu, popularitas, dan semua keindahan guna memuaskan pandangan yang sebatas sesuatu yang wujud,…kejar semuanya!, seolah meyakinkan bahwa apa yang diperjuangkannya dari dunia, adalah satu-tunggal yang akan melindunginya, dari sebuah ketakutan akan keterasingan dan pengabaian,…sebuah panggilan akan kebutuhan akan Tuhan yang Maha, yang disalah tafsirkan, hingga berpaling kearah yang salah, yaitu menjadikan dunia sebagai berhala.

Kenikmatan dunia yang diperoleh berlebihan, justru akan menjatuhkan dan menghancurkan, karena manusia sebenarnya hanya diseting untuk sekedar mengenyangkan rasa lapar, melepaskan nafsu seksual guna mewujudkan klan peradaban kemanusiaan, sebatas membungkus tubuh dan membuatnya tetap bisa tegap berdiri untuk berjalan dimuka bumi sebagai khalifah penyebar nilai-nilai kemanusiaan, memberikan manfaat, yang akan membuat kita menjadi lebih kuat karena dari apa yang kita berikan, bukan dari apa yang kita miliki. manusia dijadikan ada, hanyalah untuk beribadah dan mengendalikan semua potensi buruk dalam dirinya, sehingga kita akan sampai pada derajat manusia sebagai khalifah dimuka bumi. jika kita menentang sunatullah itu, dengan berkubang pada mengejar kenikmatan semu, maka terlepaslah kita dari fitrah kemanusiaan sebagai hamba Allah.

Obsesi mencari kenikmatan dan kepuasan yang disandarkan pada batas penghambaan fisik dan hawanafsu hewaniah, mengunci diri pada keterpasungan akan hasyrat indrawi, kehormatan demi mengingkari kelemahan dan keterbatasan diri dan ketergantungan pada selain diri sendiri, hanya akan menjadikan kita terasing dari keramaian. Karena Mengejar dunia, demi menjadi “yang maha” berarti satu-tunggal yang akhirnya yang lain akan menyingkir. Padahal rasa nikmat yang hakiki dan membuat kita menjadi bermakna, adalah manakala kita berbaur sebagai manusia, bukan sebagai “yang maha”.

Mengambil nikmat secukupnya, sebatas yang kita butuhkan bukan melulu atas apa yang kita inginkan, adalah batas untuk tetap menjaga kemanusiaan kita, dihadapan yang Satu, yang Maha Tunggal, segala yang Maha yaitu Allah.
Maka ambillah dari dunia sebatas yang kita butuhkan, meskipun kita punya kemampuan untuk melampaui dari apa yang kita inginkan.

Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS. al-A’raf (7) : 31
Banyak manusia mengejar kenikmatan, dan memaksakan diri dari batas kebutuhan kemanusiaannya, mengisap nafsu bagai morphin, memuaskan jiwa demi terus berdesir, mendekati karakter syetan sebagai “rivalnya”, guna terus merengkuh nikmat fatamorgana dunia, seolah ingin menjadi “yang Maha memiliki”.

Demi sebuah kenikmatan, manusia terus mengejar apapun untuk memuaskan lidah, seksual, bakul perutnya, rasa aman, kekuasaan semu, popularitas, dan semua keindahan guna memuaskan pandangan yang sebatas sesuatu yang wujud,…kejar semuanya!, seolah meyakinkan bahwa apa yang diperjuangkannya dari dunia, adalah satu-tunggal yang akan melindunginya, dari sebuah ketakutan akan keterasingan dan pengabaian,…sebuah panggilan akan kebutuhan akan Tuhan yang Maha, yang disalah tafsirkan, hingga berpaling kearah yang salah, yaitu menjadikan dunia sebagai berhala.

Kenikmatan dunia yang diperoleh berlebihan, justru akan menjatuhkan dan menghancurkan, karena manusia sebenarnya hanya diseting untuk sekedar mengenyangkan rasa lapar, melepaskan nafsu seksual guna mewujudkan klan peradaban kemanusiaan, sebatas membungkus tubuh dan membuatnya tetap bisa tegap berdiri untuk berjalan dimuka bumi sebagai khalifah penyebar nilai-nilai kemanusiaan, memberikan manfaat, yang akan membuat kita menjadi lebih kuat karena dari apa yang kita berikan, bukan dari apa yang kita miliki. manusia dijadikan ada, hanyalah untuk beribadah dan mengendalikan semua potensi buruk dalam dirinya, sehingga kita akan sampai pada derajat manusia sebagai khalifah dimuka bumi. jika kita menentang sunatullah itu, dengan berkubang pada mengejar kenikmatan semu, maka terlepaslah kita dari fitrah kemanusiaan sebagai hamba Allah.

Obsesi mencari kenikmatan dan kepuasan yang disandarkan pada batas penghambaan fisik dan hawanafsu hewaniah, mengunci diri pada keterpasungan akan hasyrat indrawi, kehormatan demi mengingkari kelemahan dan keterbatasan diri dan ketergantungan pada selain diri sendiri, hanya akan menjadikan kita terasing dari keramaian. Karena Mengejar dunia, demi menjadi “yang maha” berarti satu-tunggal yang akhirnya yang lain akan menyingkir. Padahal rasa nikmat yang hakiki dan membuat kita menjadi bermakna, adalah manakala kita berbaur sebagai manusia, bukan sebagai “yang maha”.

Mengambil nikmat secukupnya, sebatas yang kita butuhkan bukan melulu atas apa yang kita inginkan, adalah batas untuk tetap menjaga kemanusiaan kita, dihadapan yang Satu, yang Maha Tunggal, segala yang Maha yaitu Allah.
Maka ambillah dari dunia sebatas yang kita butuhkan, meskipun kita punya kemampuan untuk melampaui dari apa yang kita inginkan.

Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS. al-A’raf (7) : 31

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s